Minggu, 14 November 2021

MENGAPA SULTAN ISKANDAR MUDA MENJADIKAN MEUREUDU SEBAIGAI WILAYAH INTI KERAJAAN ACEH?

Pertanyaan di atas bila merujuk pada inskripsi yg terdapat pada makam Meurah Puteh, di Gampong...? (nama gampongnya sdh lupa) di Meureudu, Pidie Jaya.

Pada makam itu tersebut: "Makam Meurah Puteh bin Meurah 'Abdullah bin Sultan Saidil Al Mukammil (Nenek Sultan Iskandar Muda)".

Saat saya berziarah ke malam Meurah Puteh,  bersama Dr. Husaini Ibrahim dan rekan  Salman Farisi Minggu kemarin, memang sedikit agak susah, karena makam Merah Puteh ini terletak asing di tengah-tengah Gampong yg dipenuhi semak belukar. 

Tak ada jalan atau jurong yg bisa langsung kita akses ke lokasi makam ini. Kami terpaksa harus menaiki pagar-pagar kebun penduduk, lalu berjalan diantara semak-semak utk tiba pada makam Meurah Puteh ini.

Berdasarkan inskripsi yg ada pada makam, bila dihubungkan dgn Sultan Iskardar Muda (1607-1636), Merah Puteh dgn Sultan Iskandar Muda, adalah sama-sama cucu dari pada Sultan Saidil Al Mukammil yg memerintah kerajaan Aceh Darussalam (1585-1604).

Dalam peta silsilah yg dibuat HM. Zainuddin dlm buku "Tarihk Aceh dan Nusantara", Sultan Alaiddin Riayat Syah Saidil Al Mukammil memiliki 6 orang anaknya, yaitu Maharaja Diraja, Raja Putri, Putri Diraja Indra Ratna Wangsa, Mahmud Syah, Raja Husin Syah, dan Merah Upah.

Putri Diraja Indra Ratna Wangsa kemudian kawin dgn raja Mansur Syah Ibnu Raja Abdul Jalil. Perkawinan ini melahirkan Sultan Iskandar Muda. Ini mengartikan, Sultan Iskandar Muda adalah cucu Sultan Saidil Al Mukammil dari anak perempuannya, yaitu anak dari Peteri Diraja Indra Ratna Wangsa (ibu Sultan Iskandar Muda).

Sedangkan Merah Puteh adalah cucu Sultan Saiful Al Mukammil dari dari anak Merah Upah (Meurah Agong) atau Meurah  Abdullah, sebagai mana tersebut pada makam Meurah Puteh yang kami ziarahi di Meureudu. 

Nah, dengan demikian jelas bahwa Sultan Iskandar Muda dan Meurah Puteh, yg makamnya terdapat di Meureudu adalah sama-sama cucu dari pada Sultan Saidil  Al Mukamil.

Oleh karena itu, tidak mengherankan kenapa Sultan Iskandar Muda saat memerintah kerajaan Aceh Darussalam, menjadikan wilayah Meureudu (Pidie Jaya sekarang) sebagai satu-satunta wilayah inti kerajaan Aceh yg dikendalikan langsung di bawah Sultan, di luar wilayah inti kerajaan di Aceh besar.

Itu pula sebabnya, wilayah Meureudu pada masa Sultan Iskandar Muda disebut sebagai wilayah "bibeuh", artinya Meureudu sebuah wilayah yg tunduk langsung kepada Sultan. Karena Meureudu sebagai wilayah "bibeuh", maka Sultan Iskandar Muda tidak mengangkat Uleebalang di wilayah Meureudu, karena Meureudu ini adalah sebuah wilayah istimewa yg diberikan oleh Sultan.

Itu semua tak lepas hubungannya, antara Sultan Iskandar Muda dgn Meurah Puteh di Meureudu, yg keduanya sama-sama berkakek dgn Sultan Saidil Mukammil. Artinya, Sultan Iskardar Mudan dgn Meurah Puteh di Meureudu ini adalah masih kakak beradik.

Jadi, wajar saja kalau Sultan Iskandar Muda mengistimewakan Meureudu ini, sebagai sebuah wilayah inti dari kerajaan, di luar Aceh besar. 

Apa lagi, kontribusi Meureudu bagi kerajaan Aceh masa Sultan Iskandar Muda tergolong sangat besar. Tgk. Japakeh (Fakih Jalaluddin) di Meureudu adalah penasehat perang Sultan Iskandar Muda dlm menyerang Selangor dan Malaka.

Panglima Nyak Dum, Panglima Pidie, Malem Dagang, sampai kemudian Tgk. Chik Pante Geulima, tokoh-tokoh Meureudu yg sangat berpengaruh dlm membesarkan kerajaan Aceh Darussalam.
Sumber FB. Nabani AS

Jumat, 15 Oktober 2021

Alhudri Sasar Sekolah Terpencil Wilayah Utara-Timur Aceh


*Idi*- Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM bersama jajarannya melakukan perjalanan mengunjungi sekolah yang berada di kawasan pedalaman Aceh, mulai dari wilayah utara hingga perbatasan Sumatera Utara.

Kegiatan yang dilakukan selama empat hari, sejak Kamis, 14 hingga 16 Oktober 2021 dimulai dari SMA Negeri 1 dan 2 Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, SMA Negeri 1 dan 2 Pante Bidari, SMA Negeri 1 Peunaron, SMK Negeri 1 Lokop Serbajadi, serta SMK Negeri 1 Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.

Perjalanan yang dilakukan Kadisdik Aceh beserta rombongan sangatlah menantang, area jalan yang dilalui untuk mencapai sekolah-sekolah tersebut penuh dengan hambatan dan rintangan. Untuk sampai ke Simpang Jernih, Kadisdik harus menempuh perjalanan melalui Ibu Kota Aceh Tamiang.

Beberapa kali, mobil yang ditumpangi Alhudri beserta jajarannya terperosok dalam rawa penuh lumpur. Saat mengunjungi Pante Bidari misalnya, rombongan bahkan harus mendorong mobil yang ditumpangi karena areal jalan yang sangat berlumpur dan terjal. Namun, tekad yang kuat membangun pendidikan dari pelosok negeri membuatnya begitu bersemangat menempuh medan yang berat tersebut.

Jarak lokasi antara sekolah satu dengan lainnya tidaklah dekat, sehingga butuh waktu tempuh yang tidak sedikit. Kadisdik Aceh berada di sekolah dari sore hingga malam hari agar dapat maksimal bertemu dan berdiskusi dengan warga sekolah.

"Kita kesini tujuannya untuk melihat dan merasakan kondisi pendidikan, terutama tantangan bagi guru dan tenaga kependidikan yang berada di pedalaman. Karena kita harus bersama-sama dalam memajukan pendidikan Aceh," tutur Alhudri.

Kunjungan ini dilakukan Alhudri merupakan bagian dari bentuk komitmen Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan dalam dalam upaya melakukan pemerataan mutu Pendidikan di Aceh. Ia ingin memastikan program-program pendidikan telah berjalan dengan baik di pelosok Aceh.

Untuk mencapai ke sekolah-sekolah yang ada di pelosok, rombongan Kadisdik harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang terjal, rusak dan berdebu dengan melintasi belantara perkebunan sawit dan hutan.

Kadisdik berharap dengan kedatangan pihaknya dapat memberikan motivasi dan penghargaan secara langsung bagi warga sekolah yang ada di daerah terpencil.

"Ini merupakan upaya mewujudkan cita-cita dan komitmen Pemerintah Aceh dalam membangun pemerataan kualitas pendidikan di Aceh. Sehingga lulusan SMA, SMK dan SLB di pedalaman mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional," ungkapnya.

Kehadiran Kadisdik Aceh disambut gembira oleh warga sekolah. Menurut mereka ini merupakan kesempatan yang akan dimanfaatkan untuk menyampaikan keluh kesah yang dirasakan guru dan tenaga pendidikan di daerah terpencil.

“Selama sekolah ini berdiri, kami bersyukur baru kali ini dikunjungi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Peunaron. 

Hal yang sama diutarakan Camat Serbajadi, Taufik Hidayat, menurutnya kunjungan kadisdik Aceh ke sekolah-sekolah pedalaman merupakan kesempatan bagus bagi pihaknya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pengelolaan pendidikan di daerah pedalaman.

Sesampai di sekolah tersebut, Alhudri meninjau sarana prasarana sekolah, satu persatu ruangan yang dijadikan untuk proses belajar mengajar dilihatnya. Tak luput, Ia juga menyaksikan kondisi toilet dan kantin siswa. Ia senang melihat perkembangan yang lebih baik di satuan pendidikan.

Tidak lupa, mantan Kepala Dinas Sosial Aceh ini juga mengapresiasi ketekunan dan kegigihan para guru dan tenaga kependidikan yang mengajar di sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman.

“Kami kemari ingin merasakan bagaimana getirnya perjuangan guru-guru saat mengajar di sekolah pelosok. Kita mempunyai cita-cita yang sama untuk meningkatkan mutu pendidikan Aceh," ujarnya di hadapan para guru SMK Negeri 1 Simpang Jernih.

Alhudri menuturkan agar dapat menciptakan generasi Aceh yang lebih baik kedepan, para guru dan tenaga kependidikan harus menjalankan proses belajar mengajar dengan kreatif dan inovatif serta menjunjung tinggi kearifan lokal.

Dirinya juga menghimbau agar jangan sampai ada anak Aceh usia sekolah yang tidak masuk dalam lembaga pendidikan. Karena, menurutnya, pendidikan saat ini merupakan layanan gratis dan mendapat jaminan dari pemerintah.

“Anak-anak Aceh saat ini adalah generasi masa depan kita, baik buruknya generasi Aceh sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang didapat saat ini. Karena itu saya memohon kepada bapak/ibu guru semua, tolong diasuh dan diasah mereka dengan baik. Mereka ini adalah mutiara yang memerlukan pembinaan yang tepat dari sang guru,” kata Alhudri.

Alhudri mengharapkan agar pembelajaran tatap muka dapat terus berjalan diperlukan upaya pencegahan terhadap penyebaran Virus Covid-19, yaitu dengan penerapan protokol kesehatan dan mempercepat proses vaksinasi bagi guru dan siswa.

"Alhamdulillah, sudah mulai terlihat hasil dari ikhtiar vaksinasi yang kita lakukan, saat ini jumlah orang yang terpapar virus Covid-19 sudah terus menurun di Aceh. Semoga tahun depan kita sudah bebas dari wabah ini," ujarnya penuh harap.[]

Senin, 30 Agustus 2021

BUPATI SIMEULUE BUKA TRY OUT ONLINE P3K GURU dan Voucher 5 juta untuk Guru Terbaik

Sinabang - Bupati Simeulue yang diwakili Asisten III Bidang Administarsi dan Kepegawaian Setdakab Simeulue Abdul Karim, S. Pd membuka secara resmi kegiatan Try Out Online bagi Guru NON PNS tingkat SD, SMP, SMA, SMK dan SLB Se Kabupaten Simeulue  30 Agustus 2021.

Kegiatan tryout guru non PNS dipusatkan di Aula Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Simeulue. Peserta tryout ini sebanyak 970 orang peserta. Kegiatan berlangsung selama 2 hari lapor Al Amin selaku Kacabdin simulu kepada media ini. 

Lebih lanjut Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah Simeulue Al Amin, S. Pd dalam sambutannya mengatakan kegiatan Try Out Online dilaksanakan secara gratis bagi guru Non PNS Calon ASN P3K yang ada di Kabupaten Simeulue. Hal ini untuk melihat peta dasar kemampuan para guru-guru Simulu. 

Tryout ini juga bertujuan agar mereka siap dan tidak canggung dalam menghadapi pelaksanaan seleksi ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang dilaksanakan mulai tanggal 13-17 September 2021 secara serentak jelas Abdul Karim. 

"Harapan kita mereka mampu mencapai pasiing garde sehingga mampu mengisi kebutuhan guru simulu yang masih kekurangan.

"Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama Pemerintah daerah Simeulue dengan Teknos Genius Aceh dan Dinas Pendidikan Simeulue serta cabang Dinas Simeulue jelas Amin.

Lanjut Amin, "Adapun materi yang diujikan meliputi Sosial Kultur, Managerial dan Pedagogik dengan jumlah soal 100 butur"

Abdul Karim dalam arahannya
Utk peserta nikai terbaik 1, 2,3 dan harapan diberikan Voucher dengan total Rp. 5 juta dari Bupati Simeulue. Saya beri apresiasi kepada Dinas pendidikan dan Cabang Dinas Wilayah Simeulue yang sangat konsen dan peduli terhadap kesejahtraan guru-guru Simulu. Semoga  dengan event try out ini dapat mengetahui sejauh mana kemampuan sahabat-sahabat guru dalam memahami, menganalisis soal-soal yang diujikan sehingga ketika pelaksanaan ujian nanti sudah terbiasa dan bisa lulus ASN P3K.

 "Keberadaan ASN P3K sangatlah dinantikan disamping sebagai tanggungjawab untuk mencerdaskan generasi juga untuk meningkatkan kesejahtraan bagi guru itu sendiri karena status ASN P3K sama dengan ASN dilingkungan pemerintah.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinas Pendidikan Simeulue, kepala BPSDM Simeulue, Kabag Prokopim Simeulue, Kacabdin beserta jajarannya dan unsur  Teknos Genius Aceh

Kontributor simulu
Editor : hamid

Minggu, 29 Agustus 2021

ABU BEUREUEH, PUSA DAN KONSOLIDASI ULAMA ACEH

Keterangan Foto: Makam Abu Beureueh, Rabu, 26/8/2021

 ABU BEUREUEH, PUSA DAN KONSOLIDASI ULAMA ACEH. ini saya pulang kampung untuk sebuah urusan keluarga. Saya melintas Beureunun dan Shalat Ashar di Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin.

Nama yang ditabalkan untuk mesjid ini sarat dengan nuansa ideologis dan perjuangan. 

Mesjid ini dibangun Abu Beureueh dkk setelah beliau turun dari mardhatillah --- sebuah sebutan untuk lokasi perjuangan DI/TII Aceh yang dipimpin Allahyarham Abu Beureuh.

Di masa tua , Abu Beureureuh menghabiskan sisa umurnya di mesjid ini. Beliau sepanjang hari berada di sini dan nenerima tamu dari berbagai kalangan dari berbagai wilayah Aceh. 

Kecuali beberapa tahun, ketika tahun 1978 beliau "diculik" dan diasingkan ke Jakarta. Paska bebas dari "penculikan" beliau kembali ke mesjid ini dan pada tahun 1987 beliau meninggal.

Ada cerita menarik terkait pembangunan mesjid ini.

Karena ketokohan dan kewibawaan Abu Beureuh, banyak pihak yang datang membantu biaya dan material pembangunan. Konon menurut cerita sejumlah pihak mesjid ini tidak siap-siap.

Ternyata ini merupakan strategi Abu Beureueh. 

Lewat "modus" Pembangunan Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin rupanya Abu Beureuh mampu menyelesaikan pembangunan mesjid di sejumlah wilayah lainnya di Aceh. 

Setiap ada tokoh yang menjumpainya dan menyampaikan keluhan kendala pembangunan mesjid di wikayah mereka, Abu Beureueh langsung membantu dari sumbangan berbagai pihak kepada Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin.

Setelah merasa sejumlah mesjid di Aceh cukup dibantunya barulah kemudian Abu Beureueh menyelesaikan mesjidnya sendiri.

Mesjid ini sangat dekat dan melekat dengan nama Abu Beureueh. Mayoritas orang yang tahu peristiwa ini bahkan menyebut nama mesjid ini dengan Mesjid Abu Beureueh.

Salah satu personifikasi kedekatan Abu dengan mesjid ini terlihat dari letak makam Abu Beureueh persis di samping dinding kiri mesjid ini.

Beberapa saat setelah Shalat Asar tadi saya bersama keluarga berziarah dan berdoa di kubur Jendral Trituler ini.

Saat berziarah tadi, tiba-tiba saya teringat sebuah peristiwa kecil tahun 1987.

Hari itu, Rabu sore, 10 Juni 1987, kami bersama kawan-kawan sedang bermain di depan rumah. Di Gampong Bayi Kecamatan Tanah Luas Aceh Utara. Sebuah kampung yang jauh di pedalaman Aceh Utara di kaki gunung.

Tiba- tiba rumah kami kedatangan tamu. Seorang laki-laki paruh baya datang dengan mengendarai Vespa abu-abu. Waktu itu motor merek Vespa barang mewah. 

Di satu kecamatan kami paling ada satu atau dua vespa milik orang berada. Sekalipun mereknya vespa  orang kampung kami menyebut berbagai merek motor dengan satu nama: Honda.

Tamu yang datang itu namanya  Tgk. Aceh. Karena saya masih kecil, saya tidak tahu  nama asli dari Tgk Aceh.

Beliau adalah Ketua PPP Kecamatan Tanah Luas. Beliau berdomisili di Keudee Blangjrue.

Tgk Aceh tidak lama singgah di rumah kami. Dia hanya sejenak bertemu Abi, orang tua kami, Tgk. Abdul Djalil El-Madny alias Tgk Di Cot Mane. Terlihat buru-buru dengan wajah agak murung, lagee ureung jak cok apui, Tgk Aceh langsung pamit.

Sayup-sayup saya menguping pembicaraan Tgk Aceh dengan orang tua kami. " Abu Beureueh ka geutinggai geutanyoe". Abi terlihat terkejut. 

Sore itu juga bersama sejumlah masyarakat kampung kami, Abi melaksanakan shalat ghaib untuk Abu Beureueh.

Karena sudah usia SMP saya tahu kenapa Tgk Aceh memberitahu Abi perihal meninggalnya Abu Beureueh. Lalu kenapa Abi seperti terpukul menerima kabar duka itu. Kepada kami di waktu kosing Abi sering bercerita banyak hal, termasuk cerita Abu Beureueh yang dikaguminya itu.

Tgk Aceh merasa perlu mengabari Abi karena waktu itu Abi dikategorikan loyalis PPP dari segmen Perti. Selain itu, Abi juga diketahui sebagai bagian dari tokoh DI/TII di kampung kami yang seperti Abu Beureueh tidak "menyerah" paska Ikrar Lamteh.

Ceita ringan di atas hanya sebagai bagian dari upaya mendeskripsikan sekaligus menjelaskan bahwa sebagai ulama pergerakan -- terlepas ada yang tidak sepakat dengan nya -- memiliki jaringan yang luas dan solid di Aceh.

Karena jaringan yang luas, konsolidasasi yang terukur di seluruh Aceh, serta integritas dan ketokohannya yang diakui, tidak hanya di Aceh tapi juga sampai ke Jakarta, maka ketika itu kala Jakarta berkepentingan dengan Aceh, maka Jakarta memiliki ketergantungan kepada tokoh dam sosok ulama yang bernama Daud Beureueh. Bukan tokoh politik lainnya seperti Teuku Nyak Arif, Hasymy dan lain-lain.

Kenapa itu terjadi?.

Jawabannya adalah konsolidasi. Waktu itu lewat PUSA, para ulama berhasil menkonsolidasi diri dan umat yang mencengangkan Jakarta. Maka DI/TII Aceh pun dianggap sebuah persoalan besar karena dipimpin ulama pergerakan, sekalipun kemudian berhasil dibenamkan.

Memang setia waktu ada tokohnya. Setiap tokoh ada waktunya.

Abu Beureueh beserta para ulama Aceh waktu itu menemukan momentum lewat konsolidasi PUSA. PUSA sebagai wadah ulama Aceh kala itu berhasil menjadi mainstream dalam berbagai dinamika sosial politik di Aceh. Termasuk ikut menentukan ritme hubungan Aceh - Jakarta yang lebih fair play.

Organisasi apapun tanpa konsolidasi menjadi seperti harimau ompong. Atau singa tidur. Dan PUSA telah memberikan pelajaran kepada kita.

Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) didirikan pada 12 Rabiul Awal 1358 H atau 5 Mei 1939 M di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara (sekarang Bireuen), merupakan satu organisasi keagamaan yang besar dan kuat di Aceh pada era 1950-an. PUSA diprakarsai dan didirikan oleh para ulama modernis, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Ayah Hamid Samalanga, Tgk Abdullah Ujong Rimba, Tgk Muhammad Daud Beureu-éh, dan lain-lain.

Komposisi pendiri dan pengurus PUSA di atas sekaligus sebagai konfirmasi bahwa ulama Aceh dapat bersatu dalam sebuah wadah untuk kepentingan besar dan jangka panjang, sekalipun di antara mereka ada perpedaan perspektif terkait urusan furu' keagamaan.

Tujuan utama pembentukan organisasi ini antara lain dimaksudkan untuk memajukan dunia pendidikan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di Aceh.

Kongres PUSA yang diinisiasi oleh Teuku Chik Muhammad Djohan Alamsyah yang dikenal sebagai Ampon Syik Peusangan Meunasah Meucap di Matang Glumpang Dua. Dia merupakan ulee balang moderat yang disegani oleh Belanda. Namun pada pelaksanaannya, Ampon Syiek Peusangan yang semula merencanakan kongres ini sakit. Dan terpilihlah Teungku Daud Beureueh sebagai Ketua PUSA secara aklamasi.

Melalui ide reformasi Islam, gerakan ini telah mampu memperkuat identitas keislaman masyarakat dan renovasi historis masyarakat Aceh secara keseluruhan. 

Paska PUSA meredup, ada sejumlah organisasi dengan genetik yang sama muncul di Aceh.

Kita berharap di antara organisasi yang ada itu, akan ada momentum baru yang datang. Dengan syarat: Mampu membaca dan merebut momentum itu.[]

Keterangan Foto: Makam Abu Beureueh, Rabu, 26/8/2021
sumber: akun FB Usamah El Madny
Saya ambil sebagai sumber inspirasi untuk saya. 

Senin, 23 Agustus 2021

cara ganti nama di akun instagram anda

Buka situs instagram.com dan login ke akun pengguna > klik avatar atau profil pengguna di kanan atas > klik Edit Profile di sebelah nama pengguna > masukkan nama baru di bidang Username, kemudian klik Submit di bagian bawah halaman.

Jumat, 20 Agustus 2021

Perbedaan Seni Mural Dengan Graffiti

Banyak diantara kita yang masih bingung apa perbedaan mural dan graffiti. Jika dilihat di media lukisan mural dan grafiti biasanya dibuat di media dinding.

Khususnya di jalanan, mungkin banyak diantara kalian yang melihat mural dengan karakter yang berbeda atau bentuk tulisan lainnya.

Lalu, apa perbedaan dari mural dan graffiti?

Sebelum kita membandingkan mural dan graffiti, akan lebih baik jika kita sama-sama mengetahui apa arti atau pengertian daripada Graffiti.

Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding di mana komposisi warna, garis, bentuk dan volume digunakan untuk menulis kata-kata, simbol atau kalimat tertentu. 

Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan kuas atau kapur dengan sapuan kuas.

Jadi, perbedaan mural dengan graffiti yaitu jika mural gambar yang dibuat lebih bebas dan luas, sedangkan grafiti adalah dalam bentuk tulisan atau kata-kata. Dan biasanya grafiti lebih umum dibuat dengan cat semprot saat ini.

Minggu, 08 Agustus 2021

Hidupkan Gotong royong, Tanamkan Nilai Pancasila sejak Dini di sekolah

Dari sabang. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang terdiri dari lima sila menjadi ideolologi sebagai pedoman hidup Bangsa Indonesia.

Kelima sila tersebut adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kelima ideologi tersebut terkandung nilai-nilai luhur yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu nilai luhur yang terkandung dalam sila kelima adalah gotong-royong.

Dilansir dari Kemenko PMK, gotong royong adalah partisipasi aktif setiap individu dalam kepentingan orang banyak.

Gotong royong adalah sikap saling tolong-menolong, bahu-membahu, dan peduli kepada sesama tanpa memandang ras dan status sosial.

Sikap gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia sejak jaman dahulu. Berikut adalah contoh penerapan nilai-nilai luhur Pancasila gotong-royong:

1. Ikut membantu orang tua dalam pekerjaan rumah dengan cara menyapu, mencuci piring, dan juga membereskan rumah.
2. Selalu saling menolong sesama tanpa membeda-bedakan ras, agama, maupun status sosial.
3. Ikut serta dalam acara kerja bakti secara aktif dan tidak malas-malasan baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.
4. Mengerjakan tugas kelompok dengan baik dan tidak hanya mengandalkan satu orang dalam kelompok.
5. Ikut serta membantu korban bencana alam dengan cara menjadi relawan, menyumbangkan barang dan uang, ataupun mengajak orang lain untuk turut membantu.
6. Membantu jika ada tetangga ataupun teman yang sedang kesulitan maupun terkena bencana.
7. Tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan saat pandemi Covid-19 agar tidak memperluas penyebaran virus.
8. Selalu menggunakan masker saat ke luar rumah pada saat pandemi Covid-19 agar membantu menghentikan penyebaran virus.
9. Bergotong-royong menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan melakukan daur ulang.
10. Bergotong-royong dalam menegakkan hukum dengan mematuhi tata tertib dan peraturan baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. kompas.com

Kepala cabang dinas pendidikan wilayah kota sabang mengintrusika sekolah SMA, SMK dan PKLK yang menjadi kewenangannya untuk menghidupkan kembali pembiasaan gotong-royong dalam dilingkungan sekolah sebagai wujud kebersamaan tanpa membeda-bedakan ras, agama, maupun status sosial.

Kamis, 22 Juli 2021

DPMGA Umumkan Pemenang Lomba Gampong Aceh


Banda Aceh – Gampong (desa) Ujong Batee, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan, ditetapkan sebagai juara pertama Lomba Gampong Tingkat Provinsi Aceh tahun 2021. Desa ini menyisihkan 9 peserta lainnya, termasuk Gampong Geuceu Meunara Kota Banda Aceh.

Pemilihan desa terbaik tingkat Provinsi Aceh dilaksanaan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMAG) Aceh. Proses penilaian terdiri atas beberapa tahapan, mulai seleksi dokumen, pemaparan, hingga klarifikasi lapangan.

Kepala Bidang Pemerintahan Mukim dan Gampong DPMG Aceh Teuku Aznal Zahri mengatakan kepada KABARAKTUAL.id, Kamis (22/7/2021), proses penilaian lomba desa dilaksanakan oleh sebuah tim yang dibentuk berdasarkan SK Gubernur Aceh Nomor 414.2/1077/2021 tanggal 14 April 2021.

Untuk tahun ini, kata Aznal, terdapat 10 gampong yang berpartisipasi pada lomba yang dilaksanakan pihaknya. Ke-10 desa tersebut, yaitu:

1.    Ujong Batee, Aceh Selatan

2.    Bukit Kemuning, Aceh Tengah

3.    Pante, Aceh Utara

4.    Leupe, Aceh Jaya

5.    Bundar, Aceh Tamiang

6.    Timang Gajah, Bener Meriah

7.    Beurawang, Pidie Jaya

8.    Geuceu Meunara, Kota Banda Aceh

9.   Buket Meutuah, Kota Langsa

10. Lae Saga, Kota Subulussalam

Mantan Kacabdis Pendidkan Aceh Utara itu menambahkan, setelah dilakukan penilaian oleh tim, ditetapkan 6 desa yang masuk nominasi. Keenam desa itu adalah Ujong Batee, Bukit Kemuning, Pante, Geuceu Meunara, Buket Meutuah, dan Lae Saga.

Setelah melewati tahapan penilaian yang sangat alot, kata Aznal, tim penilai akhirnya menetapkan Ujong Batee sebagai juara pertama, Lae Saga juara dua, dan Bukit Kemuning juara tiga. Penetapan pemenang telah ditetapkan dalam keputusan Gubernur Aceh Nomor: 4144/1341/2021 tanggal 8 Juli 2021.

Aznal menerangkan, para juara lomba gampong ini mendapatkan dana pembinaan dari Pemerintah Aceh, masing-masing Rp 100 juta untuk juara I, Rp 90 juta untuk juara II, dan juara III mendapatkan Rp 80 juta. Selain itu, masingmasing juara juga mendapatkan piala, plakat dan piagam.[]

Sudah tayang di Kabaraktual. Id dan acehsiana.com

Minggu, 18 Juli 2021

Mak Ni dan Literasi Dipojok Capella

BrataNews. Suatu pagi saya singgah di sebuah bengkel servis sepeda motor. Saya ingin servis motor scoopy yang sudah beberapa bulan tidak servis. 

Seperti biasa sambil menunggu servis, kami duduk di tempat yang telah disediakan. Kami duduk berdelapan orang menunggu antrian. Diantara delampan, ada tiga ibu ibu, dua diantaranya asyik ngobrol seputaran pekerjaan sepertinya ibu guru, 

Sangat tertarik pada satu ibu mungkin umurnya sekitar 70an tahun juga, setelah saya wawancara ringan ibu ini berumur 72 tahun, beliau membawa motor untuk di servis. 

Sebagian asyik ngobrol dan yang lain berhape ria, namun ibu ini asyik membaca buku berjudul 40 Majelis Bersama Rasulullah karangan Dr Adil Bin Ali Asy-Syafii penerbit Fatiha.

Berselang 27 menit ibu ini menganti buka bacaan lain berjudul Sahabat Rasulullah. 

Cerita ini menjadi pelajaran terindah buat pembaca dimana seorang ibu berusia 72 tahun nama sapaan Kak Ni orang kampong Aree Pidie masih memanfaatkan waktu luang untuk ber literasi.

Sigli, 4 Juli 2021
Hamid

Senin, 12 Juli 2021

Jutaan Penduduk Dunia Menangis Baca Pidato Presiden Uganda, Ini isi pidatonya

akarta- Pidato Presiden Uganda ini kembali viral di beberapa medsos. Infonya, ini salah satu salah satu pidato Covid terbaik sampai sekarang dari siapa pun di dunia ini. Dialah Presiden Uganda KAGUTA MUSEVENI yang memperingatkan orang-orang yang berperilaku buruk selama periode COVID-19 ini, "Tuhan memiliki banyak pekerjaan, Dia harus menjaga seluruh dunia. Dia tidak bisa hanya berada di sini di Uganda untuk menjaga orang-orang bodoh ...".

Berikut ini adalah pidato lengkapnya:

"Dalam situasi perang, tidak ada yang meminta siapa pun untuk tinggal di dalam rumah. Anda memilih untuk diam di rumah. Bahkan, jika Anda memiliki ruang bawah tanah, Anda bersembunyi di sana selama pertempuran terus berlanjut.

Semasa perang, Anda tidak memaksakan kebebasan Anda. Anda rela menyerahkannya sebagai imbalan untuk bertahan hidup.

Selama perang, Anda tidak mengeluh kelaparan. Anda menahan lapar dan berdoa agar Anda bisa hidup untuk makan lagi.

Selama perang, Anda tidak berdebat tentang membuka bisnis Anda. Anda menutup toko Anda (itupun kalau cukup waktu), dan lari untuk menyelamatkan hidup Anda. Anda berdoa untuk hidup lebih lama hingga perang usai sehingga Anda dapat kembali ke bisnis Anda (itupun jika belum dijarah atau dihancurkan oleh tembakan mortir).

Semasa perang, Anda bersyukur kepada Tuhan karena diberikan kesempatan hidup di dunia ini.

Selama perang, Anda tidak khawatir anak-anak Anda tidak bersekolah. Anda berdoa agar pemerintah tidak memaksa mereka sebagai tentara untuk dilatih di sekolah yang berubah menjadi pelatihan militer.

Dunia saat ini sedang berperang. Perang tanpa senjata dan peluru. Perang tanpa tentara manusia. Perang tanpa batas. Perang tanpa perjanjian gencatan senjata. Perang tanpa arena. Perang tanpa zona terlarang.

Tentara dalam perang ini tanpa ampun. Tidak memiliki setitik pun rasa kemanusiaan. Tidak pandang bulu - tidak peduli apakah anak-anak, wanita, atau tempat ibadah yang diserangnya. Tentara ini tidak tertarik pada rampasan perang. Tidak ada niat untuk mengubah rezim. Tidak peduli tentang sumber daya mineral yang kaya di bawah bumi. Bahkan tidak tertarik pada hegemoni agama, etnis atau ideologis. Ambisinya tidak ada hubungannya dengan superioritas rasial. Ini adalah tentara yang tidak terlihat, cepat, dan sangat efektif.

Agenda satu-satunya adalah panen kematian. Hanya kenyang setelah mengubah dunia menjadi satu lahan kematian besar. Kapasitasnya untuk mencapai tujuannya tidak diragukan lagi. Tanpa mesin darat, amfibi dan senjata udara, ia memiliki pangkalan di hampir setiap negara di dunia. Pergerakannya tidak diatur oleh konvensi atau protokol perang apa pun. Singkatnya, ia adalah hukumnya tersendiri. ia adalah Coronavirus. Juga dikenal sebagai COVID-19 (karena mengumumkan kehadiran dan niatnya yang merusak di tahun 2019)

Syukurlah, pasukan ini memiliki kelemahan dan bisa dikalahkan. Hanya membutuhkan tindakan kolektif, disiplin dan kesabaran kita. COVID-19 tidak dapat bertahan dari jarak sosial dan fisik. Ia hanya berkembang ketika Anda menantangnya. Senang sekali dikonfrontasi. Namun menyerah dalam menghadapi jarak sosial dan fisik kolektif. Ia tunduk pada kebersihan. Tidak berdaya ketika Anda mengambil takdir Anda di tangan Anda sendiri dengan menjaganya tetap bersih sesering mungkin.

Ini bukan waktunya untuk menangis tentang roti dan mentega seperti anak-anak manja. Kitab suci mengatakan kepada kita bahwa manusia tidak akan hidup dari roti saja (tetapi dari setiap Firman yg keluar dari mulut Allah). Mari kita patuhi dan ikuti instruksi dari pihak berwenang. Mari kita ratakan kurva COVID-19. Mari melatih kesabaran. Mari menjadi penjaga saudara kita. Dalam waktu singkat, kita akan mendapatkan kembali kebebasan, perusahaan, dan sosialisasi kita. " Pidato publik terbaik dan paling cerdas yang pernah dibuat selama Covid-19.

Lihat artikel asli

Kamis, 08 Juli 2021

Nek Munah wanita Pijay berusia 130 Tahun, Begini cara merawatnya


Nenek Munah Asal Pijay, Wanita Tertua di Dunia Dan Sudah Berusia 130 Tahun
Nek Mudah

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Seorang wanita bernama Maimunah warga Gampong Blang Miroe Tunong, Kecamatan Bandar Dua Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya , Aceh , kini berumur 130 tahun , luar biasanya, nenek tersebut masih terlihat sehat dan bisa beraktivitas.

Maimunah alias Nek Munah ini masih memiliki tenaga layaknya nenek lain yang masih berumur sekitar 70 tahun, dimana Nek Munah saban hari dia tinggal bersama anak ketiganya bernama Hafsah beserta cucu dan cicitnya.

Nek Munah disebut sebagai salah satu orang tertua di dunia karena saat ini telah berusia 130 tahun, dan tinggal di gubuk yang sederhana.

Nek Munah ini sempat menikah dua kali, semasa gadisnya sekira tahun 1900-an, sang nenek menikah dengan suami pertama namun tidak dikaruniai anak.Pernikahan keduanya dengan suami yang bernama Muhammad Dali dikaruniai 12 anak.

Namun 10 di antaranya telah berpulang ke Rahmatullah dan hanya 2 orang anaknya masih hidup sampai sekarang.Usman M Dali anak ke 2 sekarang berumur sekira 78 tahun dan Hafsah M Dali berusia 75 tahun.
“Setahun lalu, ibu masih tinggal dirumah peninggalan almarhum suaminya di seberang jalan depan rumah ini, namun sudah beda desa yaitu Gampong Beurasan,” tutur Hafsah kepada wartawan di kediamannya, Minggu (6/6/2021).

Karena sudah renta dia tidak ingin membiarkan orangtuanya tinggal sendiri. “Tidak mungkin kami membiarkan ibu sendiri. Walaupun sampai sekarang Beliau masih menuntut agar rumahnya dibangunkan kembali karena rumahnya yang dulu sudah tiada,” ceritakan Hafsah
Demi menyenangi hati ibunda tercinta, Hafsah bersama abangnya Usman telah membelikan beberapa material untuk membangun kembali gubuk di lahan yang berada di seberang jalan tersebut.

Dia menyebutkan, semasa masih muda dulu sampai saat ini, ibunya sudah membantu orang lain dengan mengobati penyakit seperti muntah darah akibat serbuk dan lainnya. "Ibu mengobati orang sakit dengan berdo'a kepada Yang Maha Kuasa serta memberikan ramuan racikannya,” akui Hafsah
Saat ini, keadaan kedua matanya masih bisa melihat dengan jelas.

Begitu juga rambutnya yang masih belum beruban. Untuk pendengarannya sudah kurang pas begitu juga pembicaraan tidak begitu jelas lagi. “Mungkin karena lidahnya sudah mulai menciut dan giginya sudah tiada,” ujarnya.

Meski sudah berusia sangat renta, nenek Maimunah ternyata masih sanggup melakukan pekerjaan rumah sehari-harinya. Dengan bantuan tongkatnya, dia masih bisa berjalan-jalan sendiri dan melakukan aktivitas hariannya seperti mandi dan salat.

Nek Munah yang terlihat putih bersih dan berseri ini juga merupakan sosok yang selalu berserah diri pada Allah Maha Kuasa. Dia selalu tersenyum bahagia saat disapa orang lain.

“Dia juga selalu rajin menjalankan ibadah salat 5 waktu, salat sunah dan salat tahajud. Begitu adzan berkumandang, dia akan segera bangkit mengambil air wudhu dan bersiap untuk salat,” tuturnya.

Bahkan saat duduk beristirahat, dari mulutnya selalu berzikir dan bertasbih. “Dari mulut Nek Munah selalu terdengar zikir dan mencucapkan nama Allah SWT. Dia berdoa kepada siapa saja tamu yang menjenguknya,” tandasnya.

Diketahui, manusia tertua di dunia, yang pernah diberitakan berasal dari Shime, Prefektur Fukuoka, Tokyo yakni Kane Tanaka, yang pada Mei 2021 lalu berusia 118 tahun. Jika benar Nek Munah sudah berusia 130 tahun maka dialah manusia tertua di dunia.(*)

Sumber:Inews

Senin, 31 Mei 2021

Meureudu kota Bhinneka Tunggal Ika

Oleh Kanda Agus

Goresan tangan Kanda tanpa edit

Hny ingin mengembalikan memory kembali, sbg pengobat jiwa.
" Bismillah "

Adakah anda salah seorang dari anak mereka ?

 "  Meureudu kota Bhinneka Tunggal Ika "

Kucoba membuka sedikit lembaran masa kecilku, keramahan masyarakat Meureudu tercinta di era th. 73, berbaur dg semua suku.

Ku mulai dg menyebutkan nama Bpk. Abdul Rahim Kep. SMP, Bpk. Damhuri Shaleh Kep. MTsN & isterinya Ibuk Nuraini guru SD, Bpk. Sayed Kep. SMA & isterinya Ibuk Neng guru B. Jerman, Bpk. Mariman & ibuk KAMAL SANI guru agama SMA & SMP.

Kusebutkan pula Bpk. Muzakir, Bpk. Timbul, Bpk. H. Hulu mereka adalah agt DANDIS ( Komandan Distrik ) dibwh pimpinan P. Yahya. Saat itu bukan POLSEK.

Semua nama yg kusebutkan diatas adalah insan2 terbaik abdi Meureudu yg bersuku JAWA, PADANG, BATAK, MELAYU, yg seakan kerasan, payah lekang utk meninggalkan Meureudu. Mereka berbaur cukup erat dan melekat dg masyarakat Meureudu dlm segala bentuk kegiatan dan aktivitas.

Bapak ABDUL RAHIM, seorang guru &  kepsek SMP N 1. Meureudu yg sgt bersahaja berwibawa dan sngt dihormati oleh anak didiknya. Konon Ktny beliau seorang suku Melayu yg berlabuh di tanah Meureudu sampai mempersunting seorang gadis cantik Lhok Nga Meureudu bernama S'akdiyah kakak dari guru kita ibuk Rohani guru Kesenian SMP N 1 MEUREUDU. Hanya karena panggilan tugas beliau harus ke IDI. Dg deraian air mata, guru, siswa dan masyarakat MEUREUDU melepas kepergian nya. Setelah beberapa tahun sang putra terbaik kembali lagi ke Meureudu. Kuakhiri cerita beliau, akhir hayatnya pun beliau beristirahat di pekuburan tanah Meureudu.

Bapak DAMHURI SALEH & IBUK NURAINI, Beliau keduanya adalah suku Padang, abdi Meureudu yg berwibawa sebagai kepala MTsN Meureudu serta isterinya Ibuk Nuraini sbg guru SD. Kedua beliau sampai akhir hayatnya pun beristirahat di tanah pekuburan MEUREUDU.

Bapak SAYED & IBUK NENG, kepsek yg dikenal akrab dg siswanya. Kegiatan ekstrakurikuler, beliau isi dg olahraga bulutangkis yg sgt digemarinya bersama dg siswanya. Satu sisi beliau sgt dihormati dan di segani dg kewibawaannya. Sisi lain beliau sngt disenangi dg keramahannya. Betapa SMA N 419 MEUREUDU saat itu cukup di kenal. Kedua suami isteri ini pun berasal dari pulau seberang.

Bpk. MARIMAN & isterinya IBUK KAMAL SANI.
Saat itu sngt susah di cari guru bidang Studi Agama. Kehadiran beliau dari dua pulau yg berbeda pulau Jawa & Sumatera Barat, memberikan warna tersendiri bagi kemajuan pendidikan di Meureudu saat itu. Ibuk KAMAL SANI berbakti sbg guru Agama SMP N1 Meureudu dan Bpk. Mariman sbg guru Agama dan pembina kesenian di SMA Meureudu.

Hubungan masyarakat dg pihak kepolisian sbg penanggung jawab keamanan kecamatan saat itupun sgt indah dan akrab. Sosok seorang P. Timbul dari SUMUT slh seorang agt DANDIS saat itu selalu berada ditengah kegiatan olahraga, menjadi juri di Volley ball, bulutangkis dg sgl kelucuan logat bahasanya yg kdg payah org mengerti, tapi sama2 ketawa.

Juga Pak. Muzakir yg kita kenal agt POLISI yg sgt santun, sampai di era 80 an sempat menjadi KAPOLSEK. Mengisi masa pensiun pun beliau menawarkan diri menjadi BILAL di Mns. Blang Sp. 3 Meureudu. Sebagai pendatang dari tanah Jawa, Beliau pun memilih pekuburan MEUREUDU sbg tempat peristirahatan nya yg terakhir.

Selamat jalan semua abdi terbaik Meureudu ku. Hny doa yg mengiringi kepergian mu, Smg sang Khaliq memberikan tempat terbaik disiNya.
Tak ada yg mampu mengembalikan waktu, walau aku terus merindukan itu.

Inilah bukti keberagaman kehidupan masyarakat Meureudu yg mampu menyatu dari ke Bhinnekaan ke dalam bingkai NKRI.

Bicara Bhinneka Tunggal Ika, maka masyarakat Meureudu sudah mempraktekkannya sejak PLN belum menerangi wajah MEUREUDU di era th 70an. Sejak Meureudu sangat dikenal oleh BELANDA dg sebutan " AIR MENGALIR ".

Yaaa...walau berbeda tetapi tetap satu.
        " Bhinneka Tunggal Ika "

Maafkan bila ada kekurangan, karena semua yg ku ungkapkan memori masa kecilku di th 1973, ketika aku msh menduduki kls 3 SD s/d th 1980 kls 3 SMP.

Meureudau, 1 Juni 2021
Kanda Agus

Kuliner pijay

Meugah makanan Meureudu masa dile

Awai di Meureudu meugah geutok po Kawi
Peu l dxom bu guri, harom troh u Gampong Meuraksa
Cane dan martabak mangat bak Apa Jali
Laen lom akhi na Apom cupo Jauhara

Munyoe bu Satte sit bak Apa Majid
Cukop meukati't wate tarasa
Bulukat putu pih get that meusaneut
Ata geu meukat, le Mawa Puasa

Munyoe meukat mie, meugah abu lon
Pengalaman meu ploh thon sideh di Langsa
Mie Imum Piah meunan ureung kheun
Meusyeuhu dan meunyeum so2 yg rasa

Ureung jeb kupi rame bak Damai
Siblah warong Toke Bangai,sinan bak lorong sa
Di keu Keude Damai na pucai Syik Puteh
Abeh pingan2 gleh rame yg hawa.

Peurele keu lincah jak bak Tgk Uma 
Lawok patarana, pliek geume di Pangwa
Bulukat seule na bak H. Lamsyah
Keude cukop glah Samudra nama

Munyoe boh rom rom meugah bak Apa Husen
Warong kupi di sampeng nan jih Mulia
Tajak jeb bandret bak Apa Manyak dan Apa Puteh
Nyum cukop bereh, ie sikuthang nama

Kuweh beureutoh tum deungon kipang grieng
Tamah ruti ue kuneng pabrek Ibrahim Sentosa
Kupi boh manok keudeh u sp. 4
Rasa meusaneut, bak Toke Usman ayah Pak Baka

Peureule keu Leumang, bak mawa Bungsu
Cukop meusyeuhu keudeh u lua
Nyan keuh mak P. Salman wahe e Teungku
Geuwo u Meureudu, jeut keu Pj. Bupati Pidie Jaya.

Peureule pisang teutet jak bak Apa Adam
Bibik ngon Puteh Padang, meukat bu ban dua
Ade ngon bu beuriyani, ata lawet nyoe
Ka rayek kamoe, ata nyan baro na.

Rabu, 26 Mei 2021

SEJARAH TGK. CHIK DI PANTE GEULIMA HAJI ISMAIL

SEJARAH TGK. CHIK DI PANTE GEULIMA HAJI ISMAIL

Nasabnya  :
Tgk. Chik Di Pante Geulima Haji Ismail bin Tgk. Chik PanteYa'qub bin Tgk. Chik Di Balee 'Abdur Rahman bin Tgk. As'ad bin Tgk. Darah Puteh bin Tgk. Tok Seutia bin Tgk. Ya'qub bin Meurah PuLeh bin ilteurah 'Abdullah bin Suithan AsSaiyidii Mocammil (A1 Dahhar = Ri'ayat Syah I), yaitu kakek dari Sulthan Iskandar Muda. Sulthan Ri'ayat Syah I ini, sebelum menjadi Sulthan Aceh, pernah memangku jabatan; laksamana Raja Maharaja Pidie yang mengalahkan armada Portugis di Teluk Haru/Deli. Kemudian menjadi Sulthan Aceh Darussalam pada tahun 997  1011 H (1589  1604 M).
Dari keturunan Sulthan AsSaiyidil Mukammil/Ri'ayat Syah I inilah , lahirnya seorang 'ulama besar, melalui putera beliau Meurah Abdullah, yang laqabnya : Tgk. Chik Di Pante Geulima Haji  Ismail.
Mulai dari Meurah Abdullah sampai keturunannya ke bawah,  telah menyimpang dari jalan moyang/datunya, tidak menduduki jabatan pemerintahan/kerajaan, tetapi ingin menjadi pemimpin/guruagama Islam. Diangkatnya putera Meurah Abdullah, bernama Tgk.Meurah PUteh, diangkat menjadi Pimpinan Dayah Pengajian di Mesjid Iskandar Muda Kuta Batee Meureudu, oleh Sulthan Iskandar Muda sesudah siap pembangunan Mesjid tersebut pada tahun 1622 M.

Tempat Lahirnya :
Kemudian pada tahun 1253 H = 1838 M, lahirlah Tgk. Chik DiPante Geulima Haji Ismail tersebut, di Kampung Pante Geulima Meureudu.

Pendidikannya :
Mulamula beliau mengaji pada ayahnya Tgk. Chik Pante Ya'qub di dayah Pante Geulima, pada Tgk. Chik Tanoh Abee (Aceh Besar) dan terakhir melanjutkan pengajiannya ke Mekkah dan Madinah, selama lebih kurang delapan tahun dan pernah mengajar di Mesjidil Haram selama di sana, sebagai Syekh.


Pekerjaan/Perjuangannya 
Sepulangnya dari Makkah sekitar tahun 1280 H =:1863 M, beliau mengajar di Dayah ayahnya di Pante Geulima, sehingga pusatpendidikan Dayah Pante Geulima semakin berkembang, setelah meninggal ayahnya(Tgk. Chik Pante Ya'qub). Di waktu itu,RajaAcehadalah Sulthan Ibrahim Mansur Syah (1273 - 1286 H = 1857 1870 M).
Siswa dari Dayah tinggi ini, berdatangan dari seluruh pelosok Aceh, Langkat/Deli, Semenanjong Tanah Melayu dan lain-lain, sehingga sudah tergolong salah satu Pasat Pendidikan tarpenting dalam Kerajaan Aceh Darussalam yang jumlah siswanya lebih kurang 1000 orang Aria, Sedang berjalan lancar/berkembangnya pendidikan ini, maka datanglah ancaman penjajahan dari Kolonialis Belanda , sehingga sangat mencemaskan Syekh Dayah Tinggi ini:"Tgk. Chik Di Pante Geulima". Beliau menerima informasi, bahwa penyerangan Belanda terhadap Kerajaan Aceh sudah dekat sekali waktunya; lalu beliau merasa berkewajiban ikut aktif dalam membela tanah air yang sedang diadakan persiapannya oleh Kerajaan Aceh. Setelah mangkatnya Sulthan Ibrahim Mansur Syah dan kerajaan Acah Darussalam dipimpin Sulthan Mahmud Syah (1286 - 1290 H = 1870 1874 M), maka hubungan dengan Belanda sudah sangat genting. Kapal-kapal Belanda sudah sering melanggar kedaulatan Aceh, ditimbulkannya perpecahan kelompok-kelompok yang kuat dalam masyarakat Aceh (Ulama dan Hulubalang) dan lain-lain, dan usaha-usaha jahat lainnya. Dalam keadaan yang demikian, Tgk. Chik di PanteGeulima mengambillangkah cepat untuk menajdikan DayahTinggiPante Geulima ini sebagai tempat Pendidikan Meliter, disampingpendidikan biasa, lalu diwajibkan para siswa mengikuti pendidikan ketenteraan, kemudian diindoktrinasikan dengan cara berkhalwatsebanyak800mujahidin,yangdilanjutkandengan latihan-latihan militer.
Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda mengumumkan perang kepada Kerajaan Aceh Darussalam, kalau Sulthan Mahmud Syah tidak mau mengaku kedaulatan Belanda atas Aceh. Ultimatum yang congkak itu ditolak Sulthan Mahmud Syah dengan tekad berperang sabilsampai akhir hayat, demi mempertahankan kemerdekaan tanah airAceh tercinta.
PertempuranterjadiTenteraAgressorBelandamelakukanpendaratannya di bawah pimpinan Mayor Kohler yang kemudian mati konyol disambar peluru bedil Aceh di depan Mesjid Raya Baiturrahman, sehingga gagallah penyerangan pertama itu. Pertengahan tahun 1873, sesudah ditepung tawari dalam upacara besar -di Pante Geulima, oleh T.R. Muda Cut lathif yang bergelar : "Syamsul 'Ali Amirul-Bahri wal Bahri (wakil kepala staf Laksamana angkatanlaut dan dapat), maka Tgk. Chik Di Pante Geulima sebagai panglima perang, memberangkatkan satu Batalyon pasukan Mujahidin yang telah terlatih, menuju Aceh Besar untuk mempertahankan ibu kota negara (Banda Aceh) dari kemungkinan penyerangan Belanda yang kedua.
Selama beliau di Banda Aceh, pimpinan Dayah Tinggi Pante Geulima, diserahkan kepala sahabat-sahabat dan murid beliau:Haji M. Ali (Tgk. Di. Buket Nangroe), Tgk. Haji Hasballah MeunasahKumbang Pasee/Teupin Punti, Tgk. Chik Di Bayu/Syamtalira, Tgk.Chik Lhok Euncien/Lhok Seukon dan Tgk. Chik Paya Bakong (Aceh Utara).
Panglima Besar (Tuanku Hasyim Banta Muda) menempatkan Panglima Tgk. Chik Pante Geulima dan pasukannya di daerah Krueng Daroy, dan di sana beliau membangun sebuah kubu pertahapan yang dinamakan "Kuta Reuntang" dengan tujuh buah kubunya yang bersambung-sambung (merentang), yang induknya bernama Kuta Bu Markas Panglima Tgk. Chik Di Pante Geulima sendiri. Disekelilingnya itu(di daerah Mata Ie) sudah diperkuat benteng-bentengpertahanan
ibu kota negara Banda Aceh itu. Tidak lama sesudah persiapan itu pada bulan Desember 1873, tentera Belanda mendarat di Ujong Batee dan Ladong di bawah pimpinan Jenderal Van Swieten. Setelah tentera Belanda dapat menduduki Banda Aceh dengan "Dalam = Kraton"yang telah menjadi puing, mereka terpaksa berkurung dalam kota selama 10 tahun, kemudian mereka baru dapat menduduki Lambaro Kaphe yang jauhnya hanya 9 km dari Banda Aceh. Dalam pada. itu,pasukan Kuta Reuntang yang dipimpin langsung oleh Tgk. Chik Di Pante Geulima, selalu mengancam Belanda dalam kota Banda Aceh dengan serangan-serangan yang mendadak di malam hari. Sesudah tiga setengah tahun memimpin pasukannya di daerah Krueng Daroy, maka pada tahun 1876 M, Tgk. Chik Di Pante Geulima Syekh Ismail kembali ke Meureudu; dan kubu pertahanan Selatan diserahkankepada Panglima Baru diantara salah seorang wakilnya.
Dengan perhitungan, bahwa kemungkinan besar, dalam waktu yang agak lama, Belanda akan dapat menduduki Aceh Besar dan penyerbuan akan dilanjutkan ke Pidie, maka beliau mendapattugasuntuk mengkonsolidasi pertahanan dan membangun banteng-benteng dibelahan Timur Aceh.
Untuk ini, bersama dengan 80 orang dari pasukannya,menjelang akhir tahun 1675 M, beliau meninggalkan markas besarnya Dayah Tinggi Pante Geulima, menuju ke Timur sambil singgah di Ulee Gle, Samalanga, Bireuen, Peusangan, Cunda, Teupin Punti dan Mulieng/Lhok Sukon, di tempat manabeliau menziarahi makam/pusara
Tgk. Chik Di Mulieng dari keturunan Sulthan As-Saiyidil Mukammiljuga.
Maka sekitar Lhok Sukon ini, beliau meresmikan beberap buahDayah tempat pendidikan meliter, yaitu Dayah Tgk. Haji Hasballah Meunasah kumbang, Dayah Tgk. Chik Lhok Eundien, Dayah Tgk. Chik Paya Bakong dan di sekitar Lhok Seumawe: Dayah Tgk. Chik Di Bayu. Dalam rangka parsiapan perang yang berkepanjangan dengan Belanda, Tgk. Chik Pante Geulima terpaksa mengunjungi tanah Batak/ Karo, mengadakan kontak sambil mengIslamkan penduduk yang belummenganut agama Islam di sana.
Dalam tahun 1877, misi Tgk. Chik. Pante Geulimasebanyak 400 orang, sebagiannya melaksanakan dakwah Islamiah dan sebagian lainnyamengajak penduduk di sana, ikut bersama orang Aceh untukbertempur melawan kolonial Belanda.
Anjuran missi ini mendapat sambutan hangat dari para pemimpin rakyat di sana, terutama dari Raja Sisingamangaraja XII (menurut khabar, kemudian ia memeluk agama Islam).
Setelah enam bulan Tgk. Chik Pante Geulima meninggalkan tanah Batak/Karo; dan atas parmintaan Raja Sisingamangaraja XII/pemimpin-pemimpin lainnya, beliau meninggalkan/menitipkan 100 orang dari pasukannya yang terdiri dari Ulama-Ulama (Tgk. Di Buket dan lain-lain), para juru Dakwah dan panglima-panglima di sana; bahkan beberapa orang Panglima yang tangkas diperbantukan khusus pada Pahlawan Sisingamangaraja XII.
Sebagaitandakenang-kenangan/cendera mata waktuberpisah,Sisingamangaraja XII itu menghadiahkan kepada Tgk. ChikPanteGeulima bermacam-macam "bungong Jaroe", antara lain: setengah kilo gram emas murni, tongkat bertaktahkan emas dan dua orang jariah/dayang yang bernama : Rehna dan Padhi.
Beberapa bulan setelah itu, dalam tahun 1878, pecahlah perang kolonial di tanah Batak/Karo itu, dimana rakyat dibawah pimpinan Sisingamangaraja XII dan dibantu olehPanglima-PanglimaAceh yang masih tinggal di sana, bartempur dengan gagah perwira. Peperangan yang berkobar antara pasukan rakyat Batak dengan pasukan Belanda itu, adalah hasil perundingan antara Tgk. Chik Pante Geulima dengan Sisingamangaraja XII yang baru lalu.
Perjalanan pulang dari tanah Batak/Karo ke tanah Aceh, memakan waktu yang agak lama, karena Tgk. Chik Pante Ileulima, menyinggahi negeri-negeri dan Desa-Desa dalam perjalanan itu dalam rangka kampanye perang melawan Belanda.
Waktu beliau singgah di Mulieng dan negeri-negeri di sekitar Lhok Sukon untuk meninjau pusat-pusat pendidikan/latihan meliter yang ditinggalkan waktu berangkat ke tanah Batak/Karo dahulu, beliau mendapat berita bahwa Kota Reuntang Krueng Daroy telah jatuh ke tangan musuh, dengan menderita kerugian sebagiap besar prajuritnya syahid dalam mempertahankan Kuta terpenting di sebelah Selatan Kota Banda Aceh Darussalam itu.
Setelah tiba di markas besar Dayah Tinggi Pante Geulima, beliau menerima khabar resmi dari Panglima dan prajurit yang masih selamat dari pertempuran di Krueng Daroy, bahwa kendatipun Kuta Reuntang Krueng Daroy dan Lambaro Kaphe telah jatuh, namun pertempuran masih berkecamuk dahsyat di wilayah Aceh Besar.
Memperhatikan nafsu angkara Belanda hendak menduduki/ menaklukkan seluruh tanah Aceh, dapat diperhitungkan, bahwa wilayahAceh Besar akhirnya kelak akan dapat didudukinya; lalu sesudah itu, mereka akan manyerang Pidie, Meureudu, Samalanga dan seterusnya.
Karena informasi yang serius itu, Tgk. Chik Di Pante Geulima segera berunding/bermusyawarah dengan laksamana T.R. Muda Cut Lathif, para ulama dan Hulubalang. Keputusannya, perlu dengan segera diperkuatkan benteng-benteng yang telah ada, yaitu di Beuracan, Seunong dan Ulim di bawah pimpinan Panglima T. Bentara Peukan bin T.R. Muda Cut Lathif. Dan ditambah lagi beberapa benteng yang baru. Salah satu kuta/benteng yang ternama dan kokoh/tangguh di Aceh, adalah "Kuta Gle Batee Iliek Samalanga".
Kemudian Tgk. Chik Pante Geulima dan T.R. Muda Cut Lathif pergi ke Samalanga untuk bermusyawarah dengan paraUlama dan Hulubalang di sana dalam rangka pertahanan. Sesudah itu, beliau berdua pulang ke Meureudu sebentar. Tiba di Meureudu, mempersiapkan 400 orang tentera di bawah pimpinan Panglima               T. Bentara Peukan, berangkat membantu Perang Sabil di daerah Pidie.Kerajaan Aceh waktu itu telah berpusat di Keumala Dalam, Pidie, tahun 1879. Di sini;Tuanku Raja Keumala jadi murid beliau. 
Tidak berapa lama; berturutturut jatuhlah Pidie dan kemudian Meureudu tempat Markas besar Tgk. Chik Pante Geulimadanmusuh merampas "Kuta Bue Teungeut" yang dikuasai T.R. MudaCutLathif di kota Meureudu (rumah penjara sekarang di Kota Meureudu). 
Setelah Meureudu di duduki Belanda, maka Tgk. Chik Pante Geulima berangkat kembali ke Samalanga untuk mempertahankan Kuta Gle Batee Iliek bersamasama para ulama di sana. Dan di sana telah berkumpul Sulthan Muhammad Daud Syah dan T. Panglima Polem Muhammad Daud.
Sedangkan T.R. Muda Cut LathifkeTeupinManeBireuen, untuk melanjutkan perjuangannya di sana. Beliau meninggal di sana tahun 1900 H; usia 82 tahun.
Dalam tahun 1878, tiga kali tentera Belanda mencoba menyerang Kuta Gle Batee Iliek, tetapi selalu gagal. Penyerangan kedua dan ketiga dipimpin Jenderal Van der Heijden sendiri, jugadipukul mundur dengan mengalami kerugian yang sangat besar dipihak tentera Belanda yang agressor; sementara Jenderal Van der Heijden sendiri buta matanya disambar pelor bedil Mujahidin Aceh dari menara benteng, sehingga ia dicapot dari jabatannya. "Jenderal Buta Siblah" (panggilan orang Aceh) ini, kembali ke Banda Aceh; digantikan oleh Jenderal Van Heutsz yang telah diangkat menjadi Gubernur Meliter/Panglima tentera pendudukan di Aceh. 
Setelah menderita korban yang cukup banyak, barulah Van Heutsz berhasilmerebut Kuta Gle Batee Iliek dimana sebagian besar PanglimaPanglima dan prajuritprajurit Aceh syahid; sedangkan Sulthan Muhammad Daud, T. Panglima Polem Muhammad Dauddanbeberapa prang ulama yang dikawal oleh satu pasukan kecil,meninggalkan Kuta itu menuju kepedalaman Aceh.
Diantara para Ulama/Pahlawan yang syahid dalam pertempuran mempertahankan Kuta yang megah itu, adalah Tgk. Chik Pante Geulima, pada hari Jum'at tanggal 3 Pebruari 1901 M dalam usia63 tahun dan dimakamkan di Kampung Meurandeh Alue lebih kurang 3 km. kesebelah Tenggara Kota Ulee Gle Kecamatan Bandar Dua sekarang.

"Tgk. Chik Di Pante Geulima", telah dimasukkam ke dalam ''Inventarisasi namanama pejuang di Aceh, Nomor..:73", pada "Seminar perjuangan Acehsejak tahun 1873 sampai, dengan KemerdekaenIndonesia", di Medan, tanggal 22 sampai dengan 25 Maret.1976.




Meureudu, 28 Juli 1988
Pencatat,

( DRS. T.H. YA’QUB 'ALI  )
Catatan : Pencatat adalah cucu dari anak perempuan kandung Tgk. Chik Di Pante Geulima.

Rabu, 21 April 2021

Mengapa Harus Kartini, mengapa tidak Tjut Nyak Dhien

Kartini

Banyak dari kita beranggapan, kenapa harus hari kelahiran Kartini dijadikan sebagai hari nasional sebagai bentuk penghargaan tertinggi negara bagi wanita Indonesia?

Padahal, ada seorang pejuang tangguh, macan wanita dari Aceh yang menunjukkan kegarangannya bertempur melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Laksamana Malahayati dari Aceh. Tidak hanya di Aceh, kita bisa temui juga macan wanita lainnya, seperti Martha Christina Tiahahu dari Laut Banda, Nyi Ageng Serang yang mendapatkan kepercayaan dari Pangeran Diponogoro dalam menyusun strategi perang melawan Belanda. Dari Makassar ada pejuang wanita Andi Depu.

Atau, ada yang berjuang melalui Rohana Kudus dari Minangkabau, berjuang dengan tulisan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Wanita Minang lainnya yang berupaya mengangkat martabat wanita melalui politik, Rasuna Said. Dari  negeri Pasunda ada. Raden Dewi Sartika berjuang melalui pendidikan. Juga dari Minahasa Maria Walanda Maramis.

Bisa jadi, masih banyak wanita-wanita hebat lainnya, seorang Ibu yang telah mendidik dan melahirkan anak-anak hebat, seorang istri yang mendampingi suami-suami hebat. Tidak hanya itu, ada tokoh-tokoh wanita lain yang memberikan sentuhan berbeda dari berbagai bidang keahlian sehingga melahirkan sesuatu yang baik dan kekal tidak lekang oleh waktu.

Mereka semua adalah sosok wanita hebat Indonesia, Kartini Indonesia.

Peran seorang wanita dikatakan dalam sebuah hadist, bahwa wanita itu adalah tiang negara. Baik buruknya sebuah bangsa akan ditentukan oleh wanitanya.

Kartini sendiri merupakan sosok wanita yang kompleks dalam kehidupannya. Sebagian kisahnya tergambarkan dalam film Kartini, baik pribadinya maupun jejaringnya. Bahkan, pemikirannya juga tergambarkan dalam tulisannya yang berjudul, " Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran". Kartini adalah wanita yang kritis dan cerdas, terkekang oleh zamannya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, tapi ia tidak menyerah dan belajar sendiri, ditambah kegemarannya membaca buku.

Kartini sendiri, walaupun dipingit, ia mengembangkan jejaring-jejaringnya melalui karospodensi, surat menyurat dalam skala internasional. Ia pun setelah menikah mendirikan sekolah yang didukung oleh suaminya. 

Walaupun meninggal muda, sosoknya telah memberikan inspirasi bagi para wanita pergerakan pada waktu itu, ketika ada sebuah keinginan emansipasi wanita.

Selamat Hari Kartini. Selamat Datang Generasi Wanita Milineal.

Ya Allah, majukanlah wanita Indonesia agar Indonesia semakin maju. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung dari wanitanya. Ibu yang baik, istri yang baik, tokoh wanita yang baik dari berbagai bidang, dari merekalah lahir tokoh-tokoh bangsa dan manusia-manusia hebat Indonesia. 

(Doa Hari ke 9 Romadhon)