Sabtu, 24 November 2018

Model Pendidikan Kewirausahaan pada Pendidikan  Dasar dan Menengah

Model Pendidikan Kewirausahaan pada Pendidikan  Dasar dan Menengah

Oleh Salwa Hanum

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan karakter, berkaitan dengan pembentukan sikap dan  perilaku wirausaha peserta didik, yang selama ini belum diketahui secara pasti. Pemerintah telah berupaya untuk memasyarakatkan kewirausahaan, namun upaya tersebut belum membawa pengaruh yang signifikan karena masih banyak penduduk yang tidak produktif setiap tahun.

Adanya kebebasan dalam pengelolaan pendidikan diharapkan mampu menghasilkan output pendidikan yang berkualitas, baik dilihat dari kualitas akademik maupun non akademik. Kualitas akademik yang dimaksud yaitu kualitas peserta didik sesuai dengan disiplin ilmunya dan yang non akademik dapat diartikan mandiri dan mampu membuka usaha mandiri, intinya lulusan pendidikan diharapkan memiliki karakter dan ilmu pengetahun yang tinggi dan perilaku usaha yang tinggi.

Kehidupan manusia Indonesia akan semakin membaik dan dinamis menjelang tahun 2020 (Engkoswara : 1999). Tuntutan yang diharapkan setiap lulusan harus mempunyai kualitas terbaik dan memiliki ketangguhan dan kemandirian untuk menghadapi tantangan ke depan akibat perubahan tersebut, tantangan yang dimaksud yaitu terjadinya era global, semakin menipisnya kemandirian manusia Indonesia. Indonesia akan mengalami krisis multidimensi yang mengakibatkan memudarnya budaya bangsa di antaranya, yaitu: terjadinya degradasi moral spiritual, semangat bekerja dan berusaha semakin melemah dan kreativitas semakin tidak menentu.

Realita di lapangan, banyak lulusan pendidikan yang belum mampu mengisi lowongan pekerjaan, hal ini disebabkan karena kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan dunia kerja belum dapat mengimbangi, pengangguran semakin meningkat setiap tahun, hal ini disebabkan karena tidak adanya daya tampung tenaga kerja baik instansi pemerintahan maupun pihak swasta. Inilah salah satu alasan  perlu dikembangkan model pendidikan kewirausahaan di jenjang pendidikan dasar dan menengah, yang mampu  menumbuhkan karakter dan perilaku wirausaha pada siswa.

Pendidikan kewirausahaan diharapkan mampu mengubah pola pikir para peserta didik (Kasmir :2016). Kewirausahaan di sekolah perlu membuat kerangka pengembangan kewirausahaan yang ditujukan bagi kalangan pendidik dan kepala sekolah. Mereka adalah agen perubahan di tingkat sekolah yang diharapkan mampu menanamkan karakter dan perilaku wirausaha bagi jajaran dan peserta didiknya. Dan mampu membentuk ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill ) pada peserta didiknya melalui kurikulum terintegrasi yang dikembangkan di sekolah.

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha peserta didik sesuai tujuan pendidikan dapat dicapai.

Nilai-nilai kewirausahaan pada peserta  didik dapat dilakukan disekolah antara lain:1) pembenahan dalam Kurikulum; 2) peningkatan peran sekolah dalam mempersiapkan wirausaha; 3) pembenahan dalam pengorganisasian proses pembelajaran;  4) pembenahan pada diri guru.

Keberhasilan program pendidikan kewirausahaan  dapat diketahui melalui pencapaian kriteria oleh peserta didik, guru, dan kepala sekolah yang antara lain meliputi: 1) peserta didik memiliki karakter dan perilaku wirausaha yang tinggi, 2) lingkungan kelas yang mampu mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai kewirausahaan yang diinternalisasikan, dan 3) lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang bernuansa kewirausahaan.

Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan, kesempatan melihat dan menilai bisnis, mengumpulkan sumber daya manusia yang ada serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia pendidikan ecara kreatif untuk mencapai kesuksesan.

Kesimpulannya, seorang wirausaha adalah orang-orang yang memiliki jiwa dan karakter wirausaha dan mampu mengaplikasikan hakikat kewirausahaan dalam hidupnya (Kasmir :2016)

Nilai-nilai kewirausahaan yang dianggap paling pokok dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik diantaranya adalah: jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, inovatif, mandiri, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, pantang menyerah, berani menanggung risiko, komitmen, realitas, rasa ingin tahu, komunitas, motivasi kuat untuk sukses, dan berorientasi. Berikut ini adalah  model pendidikan kewirausahaan pada setiap jenjang pendidikan :

Pendidikan Kewirausahaan di sekolah dapat dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan di sekolah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing sehingga prosesnya perkembangannya berkelanjutan dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan.

Kesimpulannya adalah substansi inti program bidang kependidikan yang terkait dengan pendidikan kewirausahaan adalah penataan ulang kurikulum sekolah, yang dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan SDM, untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah.

Dengan mengimplementasikan pendidikan kewirausahaan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis. Dan mampu menghadapi tantangan kedepan akibat perubahan era global serta dapat menciptakan lapangan kerja sendiri.

Salwa Hanum,S.Pd.,M.Pd, adalah guru SMA Negeri 2 Sigli. Tahun 2018, meraih juara III guru prestasi tingkat Propinsi Aceh dan mendapatkan hadiah umroh. Saat ini, sedang melanjutkan program Doktor di Universitas Negeri Malang (UM) Jawa Timur.


Aku Bisa Jadi Guru karena Guru

Guru manusia hebat. Guru mampu merubah segalanya. Guru dapat membuat manusia bisa.
Guru dipikiran ku adalah manusia yang telah merubah jalan pikiran ku, telah mampu merubah cara aku berfikir cara aku berbicara baik kepada diri sendiri maupun dengan orang lain. Guru adalah sosok manusia yang mampu memberikan secercah harapan masa depan.
Melalui tulisan ini aku ingin melihat kilas balik hidup ku.
Tahun 1973 bulan tujuh adalah tahun pertama aku mengenal guru. Waktu itu aku duduk dikelas I SD Negeri Mengasah Mulieng. Kelasku waktu itu masih berdiding anyaman daun kelapa berlantai tanah. Kami diajarkan menulis dengan batu di atas batu (greb)). Syahbuddin adalah guru kelas kami. Kami panggil pak Din. Beliau yang mengajarkan kami cara duduk, cara pegang greb, cara menulis. Beliau juga selalu menuntun kami menulis. Tangan ku sering dipegang olehnya. Pak Din guru paling berjasa dalam hidup ku.
Guru berikutnya adalah pak Razali yang ahli matematika dan menggambar. Pak Hasan ahli IPA dan kesenian. Pak Nasrudin ahli IPS. Sekolah SD Negeri Mengasah Mulieng dikepalai oleh pak Lizan.  Semua Guru ku sudah almarhum kecuali pak Nasrudin. Mereka yang mengawali sejarah jejak langkah menuju perubahan.
Tahun 1983 awal beranjak duduk di pangku SMP. SMPN 2 Meureudu adalah sekolahku banyak kenangan bersama guru guru terhormat seperti pak Tajuddin ahli ketrampilan, pak Zakaria ahli matematika, pak Idris ahli matematika, pak Idris Ismail ahli bahasa Inggris, pak Yusuf ahli matematika, ibu Nurhayati ahli sejarah, ibu Mai, pak Kasem mendisplinkan kami. Pak Hasyim sebagai kepala sekolah mereka guru yang memberikan banyak kesan.

Tahun 1986 awal aku tercatat sebagai siswa SMAN Meureudu. Terimakasih kepada pak Bakhtiar Efendi, pak Jamaah pak Jamil, pak Bukhari, ibu zuma Butar Butar, pak Efendi Butar Butar, pak Bakhtiar, pak Husin, mereka telah mampu menghantarkan aku menjadi mahasiswa di IAIN Ar-Raniry Fakultas dakwah jurusan bimbingan konseling. Tepatnya tahun 1989 resmi menjadi mahasiswa.

Tahun 1993 aku ikut tes calon masiswa di Unsyiah dan Alhamdulillah saya Lulus sebagai mahasiswa DII PGSD FKIP universitas Syiah Kuala. Pada tahun tersebut aku masih mahasiswa di kedua universitas tersebut. Tahun 1996 aku selesai kuliah di DII PGSD.

Semua itu aku lakukan berkat guru. Dengan semangat yang diberikan oleh guru aku menjadi tukang Beca selama kuliah. Tahun 1997 bulan tujuh aku menjadi guru SD Negeri Lae Ikan kota Subulussalam tepatnya di perbatasan Aceh dengan Sumatra Utara.

Guru telah menghantarkan aku menjadi Guru, menjadi kepala SD Negeri Tindeu kabupaten Pidie, telah menjadi Kepala UPTD pendidikan kecamatan di kabupaten Pidie, telah menjadi kasubbag Tata usaha di PPMG wilayah II dinas pendidikan Aceh untuk Pidie dan Pidie jaya. Sekarang karena guru telah mengantarkan aku menjadi PLT kepala cabang dinas pendidikan Aceh wilayah Aceh Tengah.
Kalau bukan karena guru bagaimana aku bisa, melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada my teacher.
Semua karena takdir Allah SWT atas hambaNya. Alhamdulillah ya Allah telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengabdi kepada semua orang. Kepada Allah saya meminta petunjuk kepada Allah saya minta ampun. Aamiin ya Rabb
Penulis.
Abdul Hamid SPd MPd.

Selasa, 20 November 2018

Disdik Pidie Jaya dilatih Guru Bimbingan Khusus Manajemen Kelas Inklusif

Mereudu (20/11/2018). Dalam menidaklanjuti Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 29 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif,  Disdik Pidie Jaya melatih 55 orang  Guru Bimbingan Khusus (GBK) selama 4 hari dari tanggal 19 s.d 22 november 2018, bertempat di SMPN 2 Meureudu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie Jaya, Saiful, M.Pd mengatakan Setiap siswa ABK yang menjalani proses belajar perlu mendapatkan layanan khusus dan mskdimal serta harus memperoleh dukungan dari lingkungan, orang tua dan masyarakat serta  khususnya guru-guru, dan seluruh tenaga kependidikan yang berinteraksi dengan siswa tersebut, termasuk sarana dan fasilitas sekolah yang menunjang akses belajarnya serta program pendidikan khusus siswa ABK. Maka dari hal tersebut dukungan dari lingkungan dengan support-system dari institusi sekolah dan guru untuk menjawab tantangan persoalan tumbuh kembang anak (khususnya ABK) terutama dalam proses belajarnya. Tanpa adanya pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dari orang tua, guru dan pihak terkait akan berdampak kepada  perkembangan anak dan akses terhadap kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) guna menata kehidupan masa depan mereka sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Untuk itu Kadis mengharapkan kepada semua peserta pelatihan harus benar benar mengikuti dengan disiplin, serius, dan ikhlas, supaya ilmu yang didapat bisa berkah.

Sementara Kasi SD Disdik Pidie Jaya Zulwanis, S.Pd, menyatakan peserta pelatihan kali ini dilatih tentang Memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus & cara membantu mereka (ABK); Memahami Menejemen kelas inklusif & Strategi KBM yang fleksible & akomodatif; Memahami perangkat pembelajaran / media belajar untuk ABK; Menyusun Rencana pembelajaran individual serta  Media pembelajaran bagi AB; Praktek mengajar di sekolah inklusif. Yang dilatih oleh Narasumber Nasional bapak Dr. Dadang Garnida, M.Pd dari PPPPTK PAUD dan PLB, Bandung dan Istiarsyah, M.Ed dari SLBN Abdya.
Kontributor Pijay Mashadi

Selasa, 13 November 2018

LPMP Aceh SOSIALISASI SEKOLAH Model Bireuen

Bireuen. bersama dengan pemerintah daerah setempat lakukan kegiatan sosialisasi SPMI pada sekolah model yang telah ditetapkan oleh LPMP Aceh dan pemda. sosialisasi berlansung di Gedung SD 28 Peusangan pada Selasa, 13/10/2018. Acara diikuti oleh 30 peserta dari sekolah model, sekolah imbas, pengawas dan komite sekolah. Acara dibuka oleh kepala Dinas Pendidikan,pemuda dan olahraga bireuen Drs. M. nasir, M.pd yg diwakili oleh kasi pembinanan SMP M.nasir, S.pd dengan narasumber dari LPMP Aceh.

Fasilitator Sekolah Model Kabupaten Bireuen Alfian. M.Pd dalam laporan kegiatan menyampaikan bahwa dalam kegiatan ini nanti akan melahirkan rapor mutu untuk menyusun skala prioritas melalui Rencana Kerja Sekolah (RKS), disesuaikan dengan urgensi dan daya dukung sumber daya, baik sumber daya manusia (pendidik dan tenaga kependidikan) maupun sumber daya material (dana, sarana dan prasarana).
"Diharapkan sekolah model bisa menjadi contoh bagi sekolah imbas dan sekolah lainnya". Kata Nasir, SPd dalam sambutannya. Selanjutnya sekolah model dan imbas didampingi oleh fasda melakukan pemetaan mutu sekolah melalui implementasi SPMI, sekolah diberikan otonomi dalam mencapai delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) .
Di bireuen ada 12 Sekolah model SPMI terdiri dari 2 SMA, 2 SMK, 5 SMP dan 3 SD yang juga sedang melakukan kegiatan yang sama.
Kontributor Bireuen (Iskandar/Alfian)

Minggu, 11 November 2018

PEMUDA RAPUH, ulasan Khairuddin Budiman

Tahun lalu setelah UN berbasis komputer, kita dibuat heboh oleh komen anak2 SMA setelah mengikuti ujian. Komen itu terasa kocak, lalu diviralkan oleh banyak orang termasuk tidak sedikit oleh guru. Beberapa komen lgsg masuk ke instagram Kemdikbud, bahkan beberapa komen menantang pak Menteri mengerjakan soal. Tidak tanggung2 sebagian memberi komen lebih pedas dan nyinyir datang dari orangtua siswa, politisi, tokoh masyarakat termasuk pendidik. Padahal soal ujian berbasis Higher Order Thinking Skills sudah berlangsung beberapa tahun, hanya istilahnya saja belum populer di saat itu.

Sebagai pendidik atau akademisi, komen2 tersebut sama sekali tidak menghibur sy. Komen2 tersebut pun sy anggap hanya mewakili populasi kecil meski vulgar krn viral. Namun reaksi atas komen tersebut benar2 membuat sy nyesek. Ada yg salah dalam pendidikan kita, pembinaan karakter.  Cara menyampaikan pendapat yang ingin menang sendiri, merasa terlalu benar, lalu boleh sewenang2 mendakwa orang di depan publik. Doktrin pendidikan karakter di sekolah ternyata masih belum membekas untuk dibawa pulang menjadi jiwa, menjadi tabiat dalam kesehariannya.  Bagi sy ouput pendidikan yang baik adalah akhlak, sementara kecerdasan matematis, kecerdasan konseptual dan aplikatif butuh proses tidak ujug2. Pendidikan harus mampu mencirikan itu, termasuk pembiasaan antri di sekolah meski terlihat kecil namun berdampak besar, termasuk kecerdasan menggunakan gawai secara positif dan edukatif.

Kita terlalu mudah menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan kita.

Seperti halnya ribut2 CBT pada Tes CPNS. Beberapa hari lalu status sy ternyata jadi perbincangan di ruang publik secara offline, termasuk guru2 di sekolahku. Tidak sedikit yg mendukung, tidak kurang juga menganggap sy berkata seperti itu karena sy mudah lulus CPNS. Mereka tidak tau, kali ke 3 sy baru lulus tes CPNS. Tak ada pendaftaran online, berjibaku dengan antrian panjang saat bulan Ramadhan, di terik hari menatap anak2 gadis yg bebas menenggak frutang saat puasa dengan alasan privasi. Ikut ujian gagal pula, tanpa tau berapa nilai keluar, tanpa tau apa alasan tidak lulus, namun tetap harus berprasangka baik.

CBT bukan hal baru pada seleksi CPNS. Sistem ini bagus menurut sy, transparan, tidak ada yg disembunyikan dari hasil tes, bisa diuji publik manakala ada seseorang yg tiba2 dianggap lulus di belakang layar, lihat saja jejak tesnya. Tes berbasis komputer pula yg buat kita tau, putri Presiden Jokowi pun harus berjibaku dan tak lulus passing grade. Bukankah kami para PNS ini cukup lama distigmakan dengan pegawai yg menghabiskan anggaran negara terbesar, abdi negara yang malas suka nangkring di warkop, pelayan masyarakat yang buruk, pagawai pemerintah dengan kecerdasan rendah. Lalu saat sistem diperbaiki, rekrutmen yang baik, transparan, teruji, standar meningkat, ramai2 kita ribut.

Lagi-lagi kita sedang mempertontonkan karakter asli kita, reaktif, panik, gagal merasa benar, sistem yang buruk, kebijakan yang buruk. Kita lupa, kita negara besar yang masih tertinggal, dilampaui oleh negara yang dulunya belajar sama kita. Jika semua ditanggapi skeptis, maka energi kita hanya akan habis pada perdebatan sistem, sementara hadirnya kita pun tidak memperbaiki sistem. Nyinyir tanpa solusi. 

Trus kl gagal CPNS, apa dunia hanya pada CPNS saja, padahal para calon mertua pun sekarang tidak lagi berkutat pada pertanyaan, anda pegawai kantor mana ?. Jika emang terlalu ngebet PNS, maka pasti kita belajar untuk meningkatkan kualitas, bukan justru menantang orang2 yg tidak ada hubungannya dengan urusan kita. Masak saat Timnas Indonesia kalah dari Singapore, kita menantang Timnas Ghana melawan Singapore. Gagal kita bukan urusan orang, jika tidak suka dengan sistem mending cari lahan lain. Sy pikir pemerintah tidak sembarangan, tidak tiba2 memberi standar, pasti ada kajian2 akademik dan empirik, lalu ada proyeksi hasil rekrutmen yang ideal. Kita berharap pelayanan publik menjadi lebih baik dari abdi negara ini, sehingga stigma di atas tidak melekat lagi pada PNS.

Pemuda kita sungguh rapuh jika hanya bisa garang di instagram dan sosial media tp tidak menunjukkan kualitas mental ketika gagal, justru cari tenar dengan menyalahkan orang lain.

Tugas berat bagi kami di ruang pendidikan karena sumber perubahan masyarakat sesungguhnya berawal di pendidikan. Generasi ke depan harus kuat, tidak hanya kualitas otak, namun kesiapan mental ketika gagal. Sering sy pesankan itu di ruang kelas sy, bahwa pahlawan bukan orang tak pernah gagal, tapi mampu kuat bangkit berkali2 atas kegagalannya. Jangan jadi seperti strawberry, indah dipandang tapi rapuh saat disentuh.

Matangkuli, 11 Nov 2018
Utk Hari Pahlawan

Tulisan Khairuddin IGI

Sabtu, 10 November 2018

Bener Meriah Raih Juara I Duta Pelajar Kamtibmas 2018

BANDA ACEH. Pada pilihan Duta Pelajar Kamtibmas Provinsi Aceh tahun 2018, duta pelajar dari Kabupaten Bener Meriah memenangkan juara pertama.

Dua orang siswa SMA Negeri 1 Timang Gajah tersiri dari satu putra dan satu putri dipastikan keluar sebagai juara pertama setelah dewan juri dari Polda Aceh mengumumkan hasil perubahan yang terjadi di Grand Aceh Syariah, Jum'at malam (09/11).

Acara yang berisi layaknya kegiatan berskala nasional itu mendapat penghargaan yang luar biasa dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin M Pd.

Syaridin mengatakan kegiatan seperti ini harus dilakukan bahkan harus ditingkatkan lagi untuk tahun-tahun berikutnya dalam upaya meningkatkan prestasi siswa di Aceh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dan.madrasah, say.

“Terima kasih atas kerja sama yang baik antara Polda Aceh dan Disdik Aceh serta kesiapan dalam melakukan kegiatan yang sangat positif ini, 'kata Syaridin.

Sementara Wadir Binmas Polda Aceh, AKBP Drs Arsyad KH saat menutup pemilihan Duta Pelajar Kamtibmas tahun 2018 mengatakan kegiatan seperti ini dapat mendorong generasi muda Aceh kearah yang positif dan menumbuh kembangkan wawasan kebangsaan.

Arsyad menghimbau kepada generasi muda Aceh agar membentengi dari bahaya narkoba. Jajaran kepolisian siap bergaul dengan Dinas Pendidikan Aceh dalam program pendidikan melalui program Polisi Saweu Sikula, ujar Arsyad.

“Kegiatan pemilihan Duta Pelajar Kamtibmas ini tidak sebatas dengan para juara semata, namun lebih pada pemantapan karakter para pelajar yang lebih baik. Semua peserta yang mencerminkan daerah masing-masing adalah duta terbaik Aceh, ”pungkas Arsyad.

Berikut para juara pemilihan Duta Pelajar Kamtibmas tahun 2018.

Juara I Kab. Bener Meriah

Juara II Kota Banda Aceh

Juara III Kab. Pidie

Juara IV Kab. Nagan Raya

Juara V Kab. Aceh Tengah

Laporan: Fadli Hasan

Kamis, 08 November 2018

Agar Memudahkan, Gunakan Google Form ketika anembuat Need Assessment AKPD

BANGKALAN - Pekerjaan yang wajib dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah menyiapkan need assessment.  Untuk memudahkan pekerjaan, guru BK dapat melakukannya dengan memanfaatkan aplikasi google form.

Google telah mengembangkan aplikasi yang disebut dengan google form. Dengan memanfaatkan aplikasi ini, guru dapat membuat instrumen angket secara online, kemudian siswa sasaran dapat menjawabnya secara online pula. Secara otomatis google form akan meng-entri data yang dibuat ke dalam tabulasi format Excel dan grafik. Dengan demikian akan memudahkan kerja guru untuk menyalin dan menjadikannya sebagai sebuah laporan sesuai dengan kebutuhan. 

Pemanfaatan aplikasi google form untuk pembuatan instrumen ini diperkenalkan dalam Workshop Penyusunan Program Bimbingan Konseling Berbasis Asesmen AKPD dengan Memanfaatkan Google Formdi SMA Negeri 2 Bangkalan-Madura, Jawa Timur, tanggal 27-28 Oktober 2018. Pematerinya Drs. Andori, Kons.

Ia menyampaikan materi Penyusunan Program Bimbingan Konseling Berbasis Asesmen AKPD dengan Memanfaatkan Google Form pada kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan.

Menurut Andori, pembuatan instrumen pengumpulan data AKPD dengan memanfaatkan google form sangat mudah dan bisa dilakukan di mana saja. Bermodal komputer yang terhubung ke jaringan, seorang guru kita dapat menyusun, mengirim dan menerima hasil datanya secara cepat. Dia menjelaskan, langkah-langkah menyusun instrumen pengumpulan data melalui google formditempuh melalui tiga tahap, yaitu:

1.    Menyusun dan membuat formulir google form,

2.    Meng-entri hasil jawaban responden ke dalam aplikasi AKPD, dan

3.     Menganalisa hasil angket ke dalam program BK.

Dia menambahkan, guru BK atau konselor dapat menggunakan instrumen yang dikembangkan sendiri dengan langkah-langkah sebagaimana pengonstruksian instrumen tes.

Langkah-langkah pengembangan meliputi:

-       menetapkan tujuan pengungkapan data pribadi

-       menentukan aspek dan atau dimensi yang diukur

-       merumuskan definisi operasional, memilih cara pengukuran yang digunakan,

-       instrumen dan lembar jawaban

-       merumuskan manual penggunaan instrumen

-       penyekoran atau pengolahan, serta interpretasinya. (POP BK: 2016). Materi workshop dapat diunduh di web ini. | Ana Susanti
Copas wadahguruBK