Kamis, 08 Juli 2021

Nek Munah wanita Pijay berusia 130 Tahun, Begini cara merawatnya


Nenek Munah Asal Pijay, Wanita Tertua di Dunia Dan Sudah Berusia 130 Tahun
Nek Mudah

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Seorang wanita bernama Maimunah warga Gampong Blang Miroe Tunong, Kecamatan Bandar Dua Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya , Aceh , kini berumur 130 tahun , luar biasanya, nenek tersebut masih terlihat sehat dan bisa beraktivitas.

Maimunah alias Nek Munah ini masih memiliki tenaga layaknya nenek lain yang masih berumur sekitar 70 tahun, dimana Nek Munah saban hari dia tinggal bersama anak ketiganya bernama Hafsah beserta cucu dan cicitnya.

Nek Munah disebut sebagai salah satu orang tertua di dunia karena saat ini telah berusia 130 tahun, dan tinggal di gubuk yang sederhana.

Nek Munah ini sempat menikah dua kali, semasa gadisnya sekira tahun 1900-an, sang nenek menikah dengan suami pertama namun tidak dikaruniai anak.Pernikahan keduanya dengan suami yang bernama Muhammad Dali dikaruniai 12 anak.

Namun 10 di antaranya telah berpulang ke Rahmatullah dan hanya 2 orang anaknya masih hidup sampai sekarang.Usman M Dali anak ke 2 sekarang berumur sekira 78 tahun dan Hafsah M Dali berusia 75 tahun.
“Setahun lalu, ibu masih tinggal dirumah peninggalan almarhum suaminya di seberang jalan depan rumah ini, namun sudah beda desa yaitu Gampong Beurasan,” tutur Hafsah kepada wartawan di kediamannya, Minggu (6/6/2021).

Karena sudah renta dia tidak ingin membiarkan orangtuanya tinggal sendiri. “Tidak mungkin kami membiarkan ibu sendiri. Walaupun sampai sekarang Beliau masih menuntut agar rumahnya dibangunkan kembali karena rumahnya yang dulu sudah tiada,” ceritakan Hafsah
Demi menyenangi hati ibunda tercinta, Hafsah bersama abangnya Usman telah membelikan beberapa material untuk membangun kembali gubuk di lahan yang berada di seberang jalan tersebut.

Dia menyebutkan, semasa masih muda dulu sampai saat ini, ibunya sudah membantu orang lain dengan mengobati penyakit seperti muntah darah akibat serbuk dan lainnya. "Ibu mengobati orang sakit dengan berdo'a kepada Yang Maha Kuasa serta memberikan ramuan racikannya,” akui Hafsah
Saat ini, keadaan kedua matanya masih bisa melihat dengan jelas.

Begitu juga rambutnya yang masih belum beruban. Untuk pendengarannya sudah kurang pas begitu juga pembicaraan tidak begitu jelas lagi. “Mungkin karena lidahnya sudah mulai menciut dan giginya sudah tiada,” ujarnya.

Meski sudah berusia sangat renta, nenek Maimunah ternyata masih sanggup melakukan pekerjaan rumah sehari-harinya. Dengan bantuan tongkatnya, dia masih bisa berjalan-jalan sendiri dan melakukan aktivitas hariannya seperti mandi dan salat.

Nek Munah yang terlihat putih bersih dan berseri ini juga merupakan sosok yang selalu berserah diri pada Allah Maha Kuasa. Dia selalu tersenyum bahagia saat disapa orang lain.

“Dia juga selalu rajin menjalankan ibadah salat 5 waktu, salat sunah dan salat tahajud. Begitu adzan berkumandang, dia akan segera bangkit mengambil air wudhu dan bersiap untuk salat,” tuturnya.

Bahkan saat duduk beristirahat, dari mulutnya selalu berzikir dan bertasbih. “Dari mulut Nek Munah selalu terdengar zikir dan mencucapkan nama Allah SWT. Dia berdoa kepada siapa saja tamu yang menjenguknya,” tandasnya.

Diketahui, manusia tertua di dunia, yang pernah diberitakan berasal dari Shime, Prefektur Fukuoka, Tokyo yakni Kane Tanaka, yang pada Mei 2021 lalu berusia 118 tahun. Jika benar Nek Munah sudah berusia 130 tahun maka dialah manusia tertua di dunia.(*)

Sumber:Inews

Senin, 31 Mei 2021

Meureudu kota Bhinneka Tunggal Ika

Oleh Kanda Agus

Goresan tangan Kanda tanpa edit

Hny ingin mengembalikan memory kembali, sbg pengobat jiwa.
" Bismillah "

Adakah anda salah seorang dari anak mereka ?

 "  Meureudu kota Bhinneka Tunggal Ika "

Kucoba membuka sedikit lembaran masa kecilku, keramahan masyarakat Meureudu tercinta di era th. 73, berbaur dg semua suku.

Ku mulai dg menyebutkan nama Bpk. Abdul Rahim Kep. SMP, Bpk. Damhuri Shaleh Kep. MTsN & isterinya Ibuk Nuraini guru SD, Bpk. Sayed Kep. SMA & isterinya Ibuk Neng guru B. Jerman, Bpk. Mariman & ibuk KAMAL SANI guru agama SMA & SMP.

Kusebutkan pula Bpk. Muzakir, Bpk. Timbul, Bpk. H. Hulu mereka adalah agt DANDIS ( Komandan Distrik ) dibwh pimpinan P. Yahya. Saat itu bukan POLSEK.

Semua nama yg kusebutkan diatas adalah insan2 terbaik abdi Meureudu yg bersuku JAWA, PADANG, BATAK, MELAYU, yg seakan kerasan, payah lekang utk meninggalkan Meureudu. Mereka berbaur cukup erat dan melekat dg masyarakat Meureudu dlm segala bentuk kegiatan dan aktivitas.

Bapak ABDUL RAHIM, seorang guru &  kepsek SMP N 1. Meureudu yg sgt bersahaja berwibawa dan sngt dihormati oleh anak didiknya. Konon Ktny beliau seorang suku Melayu yg berlabuh di tanah Meureudu sampai mempersunting seorang gadis cantik Lhok Nga Meureudu bernama S'akdiyah kakak dari guru kita ibuk Rohani guru Kesenian SMP N 1 MEUREUDU. Hanya karena panggilan tugas beliau harus ke IDI. Dg deraian air mata, guru, siswa dan masyarakat MEUREUDU melepas kepergian nya. Setelah beberapa tahun sang putra terbaik kembali lagi ke Meureudu. Kuakhiri cerita beliau, akhir hayatnya pun beliau beristirahat di pekuburan tanah Meureudu.

Bapak DAMHURI SALEH & IBUK NURAINI, Beliau keduanya adalah suku Padang, abdi Meureudu yg berwibawa sebagai kepala MTsN Meureudu serta isterinya Ibuk Nuraini sbg guru SD. Kedua beliau sampai akhir hayatnya pun beristirahat di tanah pekuburan MEUREUDU.

Bapak SAYED & IBUK NENG, kepsek yg dikenal akrab dg siswanya. Kegiatan ekstrakurikuler, beliau isi dg olahraga bulutangkis yg sgt digemarinya bersama dg siswanya. Satu sisi beliau sgt dihormati dan di segani dg kewibawaannya. Sisi lain beliau sngt disenangi dg keramahannya. Betapa SMA N 419 MEUREUDU saat itu cukup di kenal. Kedua suami isteri ini pun berasal dari pulau seberang.

Bpk. MARIMAN & isterinya IBUK KAMAL SANI.
Saat itu sngt susah di cari guru bidang Studi Agama. Kehadiran beliau dari dua pulau yg berbeda pulau Jawa & Sumatera Barat, memberikan warna tersendiri bagi kemajuan pendidikan di Meureudu saat itu. Ibuk KAMAL SANI berbakti sbg guru Agama SMP N1 Meureudu dan Bpk. Mariman sbg guru Agama dan pembina kesenian di SMA Meureudu.

Hubungan masyarakat dg pihak kepolisian sbg penanggung jawab keamanan kecamatan saat itupun sgt indah dan akrab. Sosok seorang P. Timbul dari SUMUT slh seorang agt DANDIS saat itu selalu berada ditengah kegiatan olahraga, menjadi juri di Volley ball, bulutangkis dg sgl kelucuan logat bahasanya yg kdg payah org mengerti, tapi sama2 ketawa.

Juga Pak. Muzakir yg kita kenal agt POLISI yg sgt santun, sampai di era 80 an sempat menjadi KAPOLSEK. Mengisi masa pensiun pun beliau menawarkan diri menjadi BILAL di Mns. Blang Sp. 3 Meureudu. Sebagai pendatang dari tanah Jawa, Beliau pun memilih pekuburan MEUREUDU sbg tempat peristirahatan nya yg terakhir.

Selamat jalan semua abdi terbaik Meureudu ku. Hny doa yg mengiringi kepergian mu, Smg sang Khaliq memberikan tempat terbaik disiNya.
Tak ada yg mampu mengembalikan waktu, walau aku terus merindukan itu.

Inilah bukti keberagaman kehidupan masyarakat Meureudu yg mampu menyatu dari ke Bhinnekaan ke dalam bingkai NKRI.

Bicara Bhinneka Tunggal Ika, maka masyarakat Meureudu sudah mempraktekkannya sejak PLN belum menerangi wajah MEUREUDU di era th 70an. Sejak Meureudu sangat dikenal oleh BELANDA dg sebutan " AIR MENGALIR ".

Yaaa...walau berbeda tetapi tetap satu.
        " Bhinneka Tunggal Ika "

Maafkan bila ada kekurangan, karena semua yg ku ungkapkan memori masa kecilku di th 1973, ketika aku msh menduduki kls 3 SD s/d th 1980 kls 3 SMP.

Meureudau, 1 Juni 2021
Kanda Agus

Kuliner pijay

Meugah makanan Meureudu masa dile

Awai di Meureudu meugah geutok po Kawi
Peu l dxom bu guri, harom troh u Gampong Meuraksa
Cane dan martabak mangat bak Apa Jali
Laen lom akhi na Apom cupo Jauhara

Munyoe bu Satte sit bak Apa Majid
Cukop meukati't wate tarasa
Bulukat putu pih get that meusaneut
Ata geu meukat, le Mawa Puasa

Munyoe meukat mie, meugah abu lon
Pengalaman meu ploh thon sideh di Langsa
Mie Imum Piah meunan ureung kheun
Meusyeuhu dan meunyeum so2 yg rasa

Ureung jeb kupi rame bak Damai
Siblah warong Toke Bangai,sinan bak lorong sa
Di keu Keude Damai na pucai Syik Puteh
Abeh pingan2 gleh rame yg hawa.

Peurele keu lincah jak bak Tgk Uma 
Lawok patarana, pliek geume di Pangwa
Bulukat seule na bak H. Lamsyah
Keude cukop glah Samudra nama

Munyoe boh rom rom meugah bak Apa Husen
Warong kupi di sampeng nan jih Mulia
Tajak jeb bandret bak Apa Manyak dan Apa Puteh
Nyum cukop bereh, ie sikuthang nama

Kuweh beureutoh tum deungon kipang grieng
Tamah ruti ue kuneng pabrek Ibrahim Sentosa
Kupi boh manok keudeh u sp. 4
Rasa meusaneut, bak Toke Usman ayah Pak Baka

Peureule keu Leumang, bak mawa Bungsu
Cukop meusyeuhu keudeh u lua
Nyan keuh mak P. Salman wahe e Teungku
Geuwo u Meureudu, jeut keu Pj. Bupati Pidie Jaya.

Peureule pisang teutet jak bak Apa Adam
Bibik ngon Puteh Padang, meukat bu ban dua
Ade ngon bu beuriyani, ata lawet nyoe
Ka rayek kamoe, ata nyan baro na.

Rabu, 26 Mei 2021

SEJARAH TGK. CHIK DI PANTE GEULIMA HAJI ISMAIL

SEJARAH TGK. CHIK DI PANTE GEULIMA HAJI ISMAIL

Nasabnya  :
Tgk. Chik Di Pante Geulima Haji Ismail bin Tgk. Chik PanteYa'qub bin Tgk. Chik Di Balee 'Abdur Rahman bin Tgk. As'ad bin Tgk. Darah Puteh bin Tgk. Tok Seutia bin Tgk. Ya'qub bin Meurah PuLeh bin ilteurah 'Abdullah bin Suithan AsSaiyidii Mocammil (A1 Dahhar = Ri'ayat Syah I), yaitu kakek dari Sulthan Iskandar Muda. Sulthan Ri'ayat Syah I ini, sebelum menjadi Sulthan Aceh, pernah memangku jabatan; laksamana Raja Maharaja Pidie yang mengalahkan armada Portugis di Teluk Haru/Deli. Kemudian menjadi Sulthan Aceh Darussalam pada tahun 997  1011 H (1589  1604 M).
Dari keturunan Sulthan AsSaiyidil Mukammil/Ri'ayat Syah I inilah , lahirnya seorang 'ulama besar, melalui putera beliau Meurah Abdullah, yang laqabnya : Tgk. Chik Di Pante Geulima Haji  Ismail.
Mulai dari Meurah Abdullah sampai keturunannya ke bawah,  telah menyimpang dari jalan moyang/datunya, tidak menduduki jabatan pemerintahan/kerajaan, tetapi ingin menjadi pemimpin/guruagama Islam. Diangkatnya putera Meurah Abdullah, bernama Tgk.Meurah PUteh, diangkat menjadi Pimpinan Dayah Pengajian di Mesjid Iskandar Muda Kuta Batee Meureudu, oleh Sulthan Iskandar Muda sesudah siap pembangunan Mesjid tersebut pada tahun 1622 M.

Tempat Lahirnya :
Kemudian pada tahun 1253 H = 1838 M, lahirlah Tgk. Chik DiPante Geulima Haji Ismail tersebut, di Kampung Pante Geulima Meureudu.

Pendidikannya :
Mulamula beliau mengaji pada ayahnya Tgk. Chik Pante Ya'qub di dayah Pante Geulima, pada Tgk. Chik Tanoh Abee (Aceh Besar) dan terakhir melanjutkan pengajiannya ke Mekkah dan Madinah, selama lebih kurang delapan tahun dan pernah mengajar di Mesjidil Haram selama di sana, sebagai Syekh.


Pekerjaan/Perjuangannya 
Sepulangnya dari Makkah sekitar tahun 1280 H =:1863 M, beliau mengajar di Dayah ayahnya di Pante Geulima, sehingga pusatpendidikan Dayah Pante Geulima semakin berkembang, setelah meninggal ayahnya(Tgk. Chik Pante Ya'qub). Di waktu itu,RajaAcehadalah Sulthan Ibrahim Mansur Syah (1273 - 1286 H = 1857 1870 M).
Siswa dari Dayah tinggi ini, berdatangan dari seluruh pelosok Aceh, Langkat/Deli, Semenanjong Tanah Melayu dan lain-lain, sehingga sudah tergolong salah satu Pasat Pendidikan tarpenting dalam Kerajaan Aceh Darussalam yang jumlah siswanya lebih kurang 1000 orang Aria, Sedang berjalan lancar/berkembangnya pendidikan ini, maka datanglah ancaman penjajahan dari Kolonialis Belanda , sehingga sangat mencemaskan Syekh Dayah Tinggi ini:"Tgk. Chik Di Pante Geulima". Beliau menerima informasi, bahwa penyerangan Belanda terhadap Kerajaan Aceh sudah dekat sekali waktunya; lalu beliau merasa berkewajiban ikut aktif dalam membela tanah air yang sedang diadakan persiapannya oleh Kerajaan Aceh. Setelah mangkatnya Sulthan Ibrahim Mansur Syah dan kerajaan Acah Darussalam dipimpin Sulthan Mahmud Syah (1286 - 1290 H = 1870 1874 M), maka hubungan dengan Belanda sudah sangat genting. Kapal-kapal Belanda sudah sering melanggar kedaulatan Aceh, ditimbulkannya perpecahan kelompok-kelompok yang kuat dalam masyarakat Aceh (Ulama dan Hulubalang) dan lain-lain, dan usaha-usaha jahat lainnya. Dalam keadaan yang demikian, Tgk. Chik di PanteGeulima mengambillangkah cepat untuk menajdikan DayahTinggiPante Geulima ini sebagai tempat Pendidikan Meliter, disampingpendidikan biasa, lalu diwajibkan para siswa mengikuti pendidikan ketenteraan, kemudian diindoktrinasikan dengan cara berkhalwatsebanyak800mujahidin,yangdilanjutkandengan latihan-latihan militer.
Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda mengumumkan perang kepada Kerajaan Aceh Darussalam, kalau Sulthan Mahmud Syah tidak mau mengaku kedaulatan Belanda atas Aceh. Ultimatum yang congkak itu ditolak Sulthan Mahmud Syah dengan tekad berperang sabilsampai akhir hayat, demi mempertahankan kemerdekaan tanah airAceh tercinta.
PertempuranterjadiTenteraAgressorBelandamelakukanpendaratannya di bawah pimpinan Mayor Kohler yang kemudian mati konyol disambar peluru bedil Aceh di depan Mesjid Raya Baiturrahman, sehingga gagallah penyerangan pertama itu. Pertengahan tahun 1873, sesudah ditepung tawari dalam upacara besar -di Pante Geulima, oleh T.R. Muda Cut lathif yang bergelar : "Syamsul 'Ali Amirul-Bahri wal Bahri (wakil kepala staf Laksamana angkatanlaut dan dapat), maka Tgk. Chik Di Pante Geulima sebagai panglima perang, memberangkatkan satu Batalyon pasukan Mujahidin yang telah terlatih, menuju Aceh Besar untuk mempertahankan ibu kota negara (Banda Aceh) dari kemungkinan penyerangan Belanda yang kedua.
Selama beliau di Banda Aceh, pimpinan Dayah Tinggi Pante Geulima, diserahkan kepala sahabat-sahabat dan murid beliau:Haji M. Ali (Tgk. Di. Buket Nangroe), Tgk. Haji Hasballah MeunasahKumbang Pasee/Teupin Punti, Tgk. Chik Di Bayu/Syamtalira, Tgk.Chik Lhok Euncien/Lhok Seukon dan Tgk. Chik Paya Bakong (Aceh Utara).
Panglima Besar (Tuanku Hasyim Banta Muda) menempatkan Panglima Tgk. Chik Pante Geulima dan pasukannya di daerah Krueng Daroy, dan di sana beliau membangun sebuah kubu pertahapan yang dinamakan "Kuta Reuntang" dengan tujuh buah kubunya yang bersambung-sambung (merentang), yang induknya bernama Kuta Bu Markas Panglima Tgk. Chik Di Pante Geulima sendiri. Disekelilingnya itu(di daerah Mata Ie) sudah diperkuat benteng-bentengpertahanan
ibu kota negara Banda Aceh itu. Tidak lama sesudah persiapan itu pada bulan Desember 1873, tentera Belanda mendarat di Ujong Batee dan Ladong di bawah pimpinan Jenderal Van Swieten. Setelah tentera Belanda dapat menduduki Banda Aceh dengan "Dalam = Kraton"yang telah menjadi puing, mereka terpaksa berkurung dalam kota selama 10 tahun, kemudian mereka baru dapat menduduki Lambaro Kaphe yang jauhnya hanya 9 km dari Banda Aceh. Dalam pada. itu,pasukan Kuta Reuntang yang dipimpin langsung oleh Tgk. Chik Di Pante Geulima, selalu mengancam Belanda dalam kota Banda Aceh dengan serangan-serangan yang mendadak di malam hari. Sesudah tiga setengah tahun memimpin pasukannya di daerah Krueng Daroy, maka pada tahun 1876 M, Tgk. Chik Di Pante Geulima Syekh Ismail kembali ke Meureudu; dan kubu pertahanan Selatan diserahkankepada Panglima Baru diantara salah seorang wakilnya.
Dengan perhitungan, bahwa kemungkinan besar, dalam waktu yang agak lama, Belanda akan dapat menduduki Aceh Besar dan penyerbuan akan dilanjutkan ke Pidie, maka beliau mendapattugasuntuk mengkonsolidasi pertahanan dan membangun banteng-benteng dibelahan Timur Aceh.
Untuk ini, bersama dengan 80 orang dari pasukannya,menjelang akhir tahun 1675 M, beliau meninggalkan markas besarnya Dayah Tinggi Pante Geulima, menuju ke Timur sambil singgah di Ulee Gle, Samalanga, Bireuen, Peusangan, Cunda, Teupin Punti dan Mulieng/Lhok Sukon, di tempat manabeliau menziarahi makam/pusara
Tgk. Chik Di Mulieng dari keturunan Sulthan As-Saiyidil Mukammiljuga.
Maka sekitar Lhok Sukon ini, beliau meresmikan beberap buahDayah tempat pendidikan meliter, yaitu Dayah Tgk. Haji Hasballah Meunasah kumbang, Dayah Tgk. Chik Lhok Eundien, Dayah Tgk. Chik Paya Bakong dan di sekitar Lhok Seumawe: Dayah Tgk. Chik Di Bayu. Dalam rangka parsiapan perang yang berkepanjangan dengan Belanda, Tgk. Chik Pante Geulima terpaksa mengunjungi tanah Batak/ Karo, mengadakan kontak sambil mengIslamkan penduduk yang belummenganut agama Islam di sana.
Dalam tahun 1877, misi Tgk. Chik. Pante Geulimasebanyak 400 orang, sebagiannya melaksanakan dakwah Islamiah dan sebagian lainnyamengajak penduduk di sana, ikut bersama orang Aceh untukbertempur melawan kolonial Belanda.
Anjuran missi ini mendapat sambutan hangat dari para pemimpin rakyat di sana, terutama dari Raja Sisingamangaraja XII (menurut khabar, kemudian ia memeluk agama Islam).
Setelah enam bulan Tgk. Chik Pante Geulima meninggalkan tanah Batak/Karo; dan atas parmintaan Raja Sisingamangaraja XII/pemimpin-pemimpin lainnya, beliau meninggalkan/menitipkan 100 orang dari pasukannya yang terdiri dari Ulama-Ulama (Tgk. Di Buket dan lain-lain), para juru Dakwah dan panglima-panglima di sana; bahkan beberapa orang Panglima yang tangkas diperbantukan khusus pada Pahlawan Sisingamangaraja XII.
Sebagaitandakenang-kenangan/cendera mata waktuberpisah,Sisingamangaraja XII itu menghadiahkan kepada Tgk. ChikPanteGeulima bermacam-macam "bungong Jaroe", antara lain: setengah kilo gram emas murni, tongkat bertaktahkan emas dan dua orang jariah/dayang yang bernama : Rehna dan Padhi.
Beberapa bulan setelah itu, dalam tahun 1878, pecahlah perang kolonial di tanah Batak/Karo itu, dimana rakyat dibawah pimpinan Sisingamangaraja XII dan dibantu olehPanglima-PanglimaAceh yang masih tinggal di sana, bartempur dengan gagah perwira. Peperangan yang berkobar antara pasukan rakyat Batak dengan pasukan Belanda itu, adalah hasil perundingan antara Tgk. Chik Pante Geulima dengan Sisingamangaraja XII yang baru lalu.
Perjalanan pulang dari tanah Batak/Karo ke tanah Aceh, memakan waktu yang agak lama, karena Tgk. Chik Pante Ileulima, menyinggahi negeri-negeri dan Desa-Desa dalam perjalanan itu dalam rangka kampanye perang melawan Belanda.
Waktu beliau singgah di Mulieng dan negeri-negeri di sekitar Lhok Sukon untuk meninjau pusat-pusat pendidikan/latihan meliter yang ditinggalkan waktu berangkat ke tanah Batak/Karo dahulu, beliau mendapat berita bahwa Kota Reuntang Krueng Daroy telah jatuh ke tangan musuh, dengan menderita kerugian sebagiap besar prajuritnya syahid dalam mempertahankan Kuta terpenting di sebelah Selatan Kota Banda Aceh Darussalam itu.
Setelah tiba di markas besar Dayah Tinggi Pante Geulima, beliau menerima khabar resmi dari Panglima dan prajurit yang masih selamat dari pertempuran di Krueng Daroy, bahwa kendatipun Kuta Reuntang Krueng Daroy dan Lambaro Kaphe telah jatuh, namun pertempuran masih berkecamuk dahsyat di wilayah Aceh Besar.
Memperhatikan nafsu angkara Belanda hendak menduduki/ menaklukkan seluruh tanah Aceh, dapat diperhitungkan, bahwa wilayahAceh Besar akhirnya kelak akan dapat didudukinya; lalu sesudah itu, mereka akan manyerang Pidie, Meureudu, Samalanga dan seterusnya.
Karena informasi yang serius itu, Tgk. Chik Di Pante Geulima segera berunding/bermusyawarah dengan laksamana T.R. Muda Cut Lathif, para ulama dan Hulubalang. Keputusannya, perlu dengan segera diperkuatkan benteng-benteng yang telah ada, yaitu di Beuracan, Seunong dan Ulim di bawah pimpinan Panglima T. Bentara Peukan bin T.R. Muda Cut Lathif. Dan ditambah lagi beberapa benteng yang baru. Salah satu kuta/benteng yang ternama dan kokoh/tangguh di Aceh, adalah "Kuta Gle Batee Iliek Samalanga".
Kemudian Tgk. Chik Pante Geulima dan T.R. Muda Cut Lathif pergi ke Samalanga untuk bermusyawarah dengan paraUlama dan Hulubalang di sana dalam rangka pertahanan. Sesudah itu, beliau berdua pulang ke Meureudu sebentar. Tiba di Meureudu, mempersiapkan 400 orang tentera di bawah pimpinan Panglima               T. Bentara Peukan, berangkat membantu Perang Sabil di daerah Pidie.Kerajaan Aceh waktu itu telah berpusat di Keumala Dalam, Pidie, tahun 1879. Di sini;Tuanku Raja Keumala jadi murid beliau. 
Tidak berapa lama; berturutturut jatuhlah Pidie dan kemudian Meureudu tempat Markas besar Tgk. Chik Pante Geulimadanmusuh merampas "Kuta Bue Teungeut" yang dikuasai T.R. MudaCutLathif di kota Meureudu (rumah penjara sekarang di Kota Meureudu). 
Setelah Meureudu di duduki Belanda, maka Tgk. Chik Pante Geulima berangkat kembali ke Samalanga untuk mempertahankan Kuta Gle Batee Iliek bersamasama para ulama di sana. Dan di sana telah berkumpul Sulthan Muhammad Daud Syah dan T. Panglima Polem Muhammad Daud.
Sedangkan T.R. Muda Cut LathifkeTeupinManeBireuen, untuk melanjutkan perjuangannya di sana. Beliau meninggal di sana tahun 1900 H; usia 82 tahun.
Dalam tahun 1878, tiga kali tentera Belanda mencoba menyerang Kuta Gle Batee Iliek, tetapi selalu gagal. Penyerangan kedua dan ketiga dipimpin Jenderal Van der Heijden sendiri, jugadipukul mundur dengan mengalami kerugian yang sangat besar dipihak tentera Belanda yang agressor; sementara Jenderal Van der Heijden sendiri buta matanya disambar pelor bedil Mujahidin Aceh dari menara benteng, sehingga ia dicapot dari jabatannya. "Jenderal Buta Siblah" (panggilan orang Aceh) ini, kembali ke Banda Aceh; digantikan oleh Jenderal Van Heutsz yang telah diangkat menjadi Gubernur Meliter/Panglima tentera pendudukan di Aceh. 
Setelah menderita korban yang cukup banyak, barulah Van Heutsz berhasilmerebut Kuta Gle Batee Iliek dimana sebagian besar PanglimaPanglima dan prajuritprajurit Aceh syahid; sedangkan Sulthan Muhammad Daud, T. Panglima Polem Muhammad Dauddanbeberapa prang ulama yang dikawal oleh satu pasukan kecil,meninggalkan Kuta itu menuju kepedalaman Aceh.
Diantara para Ulama/Pahlawan yang syahid dalam pertempuran mempertahankan Kuta yang megah itu, adalah Tgk. Chik Pante Geulima, pada hari Jum'at tanggal 3 Pebruari 1901 M dalam usia63 tahun dan dimakamkan di Kampung Meurandeh Alue lebih kurang 3 km. kesebelah Tenggara Kota Ulee Gle Kecamatan Bandar Dua sekarang.

"Tgk. Chik Di Pante Geulima", telah dimasukkam ke dalam ''Inventarisasi namanama pejuang di Aceh, Nomor..:73", pada "Seminar perjuangan Acehsejak tahun 1873 sampai, dengan KemerdekaenIndonesia", di Medan, tanggal 22 sampai dengan 25 Maret.1976.




Meureudu, 28 Juli 1988
Pencatat,

( DRS. T.H. YA’QUB 'ALI  )
Catatan : Pencatat adalah cucu dari anak perempuan kandung Tgk. Chik Di Pante Geulima.

Rabu, 21 April 2021

Mengapa Harus Kartini, mengapa tidak Tjut Nyak Dhien

Kartini

Banyak dari kita beranggapan, kenapa harus hari kelahiran Kartini dijadikan sebagai hari nasional sebagai bentuk penghargaan tertinggi negara bagi wanita Indonesia?

Padahal, ada seorang pejuang tangguh, macan wanita dari Aceh yang menunjukkan kegarangannya bertempur melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Laksamana Malahayati dari Aceh. Tidak hanya di Aceh, kita bisa temui juga macan wanita lainnya, seperti Martha Christina Tiahahu dari Laut Banda, Nyi Ageng Serang yang mendapatkan kepercayaan dari Pangeran Diponogoro dalam menyusun strategi perang melawan Belanda. Dari Makassar ada pejuang wanita Andi Depu.

Atau, ada yang berjuang melalui Rohana Kudus dari Minangkabau, berjuang dengan tulisan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Wanita Minang lainnya yang berupaya mengangkat martabat wanita melalui politik, Rasuna Said. Dari  negeri Pasunda ada. Raden Dewi Sartika berjuang melalui pendidikan. Juga dari Minahasa Maria Walanda Maramis.

Bisa jadi, masih banyak wanita-wanita hebat lainnya, seorang Ibu yang telah mendidik dan melahirkan anak-anak hebat, seorang istri yang mendampingi suami-suami hebat. Tidak hanya itu, ada tokoh-tokoh wanita lain yang memberikan sentuhan berbeda dari berbagai bidang keahlian sehingga melahirkan sesuatu yang baik dan kekal tidak lekang oleh waktu.

Mereka semua adalah sosok wanita hebat Indonesia, Kartini Indonesia.

Peran seorang wanita dikatakan dalam sebuah hadist, bahwa wanita itu adalah tiang negara. Baik buruknya sebuah bangsa akan ditentukan oleh wanitanya.

Kartini sendiri merupakan sosok wanita yang kompleks dalam kehidupannya. Sebagian kisahnya tergambarkan dalam film Kartini, baik pribadinya maupun jejaringnya. Bahkan, pemikirannya juga tergambarkan dalam tulisannya yang berjudul, " Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran". Kartini adalah wanita yang kritis dan cerdas, terkekang oleh zamannya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, tapi ia tidak menyerah dan belajar sendiri, ditambah kegemarannya membaca buku.

Kartini sendiri, walaupun dipingit, ia mengembangkan jejaring-jejaringnya melalui karospodensi, surat menyurat dalam skala internasional. Ia pun setelah menikah mendirikan sekolah yang didukung oleh suaminya. 

Walaupun meninggal muda, sosoknya telah memberikan inspirasi bagi para wanita pergerakan pada waktu itu, ketika ada sebuah keinginan emansipasi wanita.

Selamat Hari Kartini. Selamat Datang Generasi Wanita Milineal.

Ya Allah, majukanlah wanita Indonesia agar Indonesia semakin maju. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung dari wanitanya. Ibu yang baik, istri yang baik, tokoh wanita yang baik dari berbagai bidang, dari merekalah lahir tokoh-tokoh bangsa dan manusia-manusia hebat Indonesia. 

(Doa Hari ke 9 Romadhon)

Rabu, 23 Desember 2020

Alumni PGSD 90an Gelar Reuni, Eksistensi Silaturahmi untuk berbagi


Meulaboh _ Alumni Mahasiswa Program Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melaksanakan reunian di Wilayah Barat  di Pantai Bubon Selasa 22/12/2020.

Reuni Alumni PGSD tahun ini adalah tahun ke 6. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para Alumni sebagai jalan menyambung tali silaturahmi antar Alumni dan keluarga. Para Alumni diwajibkan mengikut sertakan keluar, baik suami atau istri juga anak anak kata Hamid ketua reuni juga mantan ketua warga waktu kuliah tahun 1993 UPP lampeunurut. 

Uniknya reuni angkatan 90an ini yaitu tempat reuni selalu berpindah pindah di setiap tahun. "Tempat reuni tahun depan, kami putuskan berdasarkan hasil musyawarah setiap akhir reuni tahun berjalan dan atas kesediaan tuan rumah tempat reuni tersebut" Kata Bustami angkatan 92 sekarang bertugas sebagai sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Nagan Raya. 

Chairil Anwar sebagai ketua panitia tempat tahun ini memberi keterangan kepada media ini, peserta yang ikut hari ini 52 teridi dari Nagan Raya 13 keluarga, meulaboh 4 keluarga, Aceh Selatan 6 keluarga,  Aceh Besar 2 keluarga, Pidie 4 keluarga, Bireun 2 keluarga, Aceh Utara 3 keluarga, langsa 2 keluarga ulas pengawas PAI SMA SMK Aceh Barat. 

" Tahun 2021 Aceh Timur sebagai tuan rumah sebagai pilihan pertama dan pilihan kedua adalah kota Sabang" Kata bu Malinda. Bagi teman yang ingin bergabung tahun depan silakan daftar diri pada Ketua alumni atau kunjungi Facebook Alumni DII PGSD unsyiah.

Kami berharap Alumni PGSD harus kompak membangun pendidikan Aceh. Kita tunjukkan bahwa kita memberi kontribusi nyata untuk Ummat 
Kontributor: Hamid

Sabtu, 19 Desember 2020

Radar Bike, Titik Kumpul Gowes Bareng Tim MBGH


Banda Aceh - Berbagai cara dilakukan untuk mempererat hubungan antara pelatih dengan sesama anggotanya. Begitu juga dengan Tim Marching Band Gita Handayani ini, mereka mengadakan kegiatan bersepeda bersama seluruh anggotanya. 

Ketua tim pelatih Marching Band Gita Handayani, Taufik Hidayat kepada media, Minggu (20/12/2020) di Radar Bike Jambo Tape menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya pihaknya dalam rangka meningkatkan kapasitas sesama anggota tim. 

"Jadi pada kesempatan ini kita memilih untuk melaksanakan kegiatan gowes ini. Karena murah dan mudah dilakukan oleh siapa pun. Terlebih dengan kondisi pandemi Covid 19 sekarang yang mengharuskan kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran," terangnya. 

Dia memastikan peserta yang ikut kegiatan gowes ini mencapai 60 peserta dengan jarak tempuh 35 km. Sedangkan untuk titik kumpul dan finishnya di Radar Bike di Jambo Tape, Kota Banda Aceh atau depan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh. 

"Sesudah gowes, anak-anak juga akan diperkenalkan dan diberikan informasi tentang manfaat olahraga sepeda dan jenis sepeda sesuai dengan postur tubuh masing-masingnya. Karena di Radar Aceh disediakan bermacam jenis sepeda yang digunakan atlet dan masyarakat umum," ujar pria yang akrab dipanggil Toya. 

Selain menjaga stamina, kata Toya,  olahraga yang familiar dengan gowes ini dinilai bisa mempererat hubungan sekaligus membangun kebersamaan antara pelatih dan anggotanya. 

"Olahraga ini juga berguna untuk menjaga stamina agar tetap stabil. Itu merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh anggota tim MBGH," katanya. 

Dirinya menambahkan, kegiatan gowes tak hanya kali ini saja digelar, nantinya kita juga akan sering olahraga bersepeda. Kegiatan kali ini tidak hanya diikuti oleh anggota Tim Marching Band Gita Handayani dan jajaran saja, melainkan diikuti juga oleh beberapa komunitas sepeda lainnya.

Berikut beberapa manfaat bersepeda untuk kesehatan :

1. Mengontrol berat badan
Bersepeda adalah cara yang baik untuk mengontrol atau mengurangi berat badan karena dapat meningkatkan tingkat metabolisme, membangun otot dan membakar lemak tubuh.

Penelitian menunjukkan bersepeda selama satu jam membantu membakar 300 kalori. Riset dari Inggris juga membuktikan, bersepeda selama setengah jam setiap hari membantu membakar lima kilogram lemak dalam setahun.

2. Menjaga kesehatan jantung
Bersepeda memperkuat otot jantung, menurunkan denyut nadi istirahat dan mengurangi kadar lemak darah.
Riset dari Denmar yang meneliti 30.000 orang berusia 20 hingga 93 tahun juga membuktikan bersepeda secara teratur melindungi kita dari penyakit jantung.

4. Meminimalisir risiko diabetes
Diabetes tipe 2 merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Kurangnya aktivitas fisik adalah alasan utama yang membuat penderita diabetes meningkat setiap waktu.
Riset dari Finlandia membuktikan, bersepeda 30 menit per hari mampu mengurangi risiko diabetes hingga 40 persen.

5. Meningkatkan kesehatan mental
Gangguan kesehatan mental seperti depresi, stres dan kecemasan dapat dikurangi dengan mengendarai sepeda secara teratur.
Hal ini disebabkan karena bersepeda memiliki efek yang sama seperti rekreasi sehingga mendorong dopamin yang memicu rasa bahagia.

Selasa, 01 Desember 2020

*Anies Baswedan bukan temanku*

Anies Baswedan bukan temanku*
Oleh:. 
*Sirikit Syah*

Banyak teman mengira aku pendukung AB, entah dalam konteks apa. Tapi aku memang mengagumi sosok satu ini jauh sejak dia masih “belum apa-apa”. Waktu itu, tahun 2007, saya masih di Brunei Darussalam. Saya membaca berita bahwa di salah satu majalah luar negeri, namanya disebutkan sebagai salah satu dari 100 tokoh muda berpengaruh di dunia.

Ketika dia menjadi Rektor Universitas Paramadina, saya hampir selesai kontrak dengan The Brunei Times. Saya menghubungi orang yang tidak saya kenal itu, dan dia menyambut dengan sangat ramah. Saya ajukan kemungkinan saya melamar sebagai wakil rektor di Paramadina, dia menyambut baik dan memberi petunjuk apa yg harus saya lakukan. Alhasil, pada suatu hari di Jakarta, saya berhadapan dengan AB dan jajarannya, diwawancarai untuk kemungkinan jabatan Warek I (kalau saya tidak salah ingat). Modal saya cuma pengalaman menjadi Warek di Stikosa 2003-2007 (pengalaman wartawan belasan tahun tidak signifikan di sini). Ternyata pada hari yang sama ada beberapa kandidat lainnya yang diwawancarai. Saya tidak berhasil, kandidat lain lebih memenuhi syarat dan standar Paramadina. Itulah pertamakalinya saya bertemu dengan AB.
Tahun 2008, merasa sudah kenal, saya mengundangnya untuk menjadi keynote speaker pada acara yang kami selenggarakan (LKM Media Watch – Klub Guru) untuk memeringati Hari Pendidikan Nasional. Fasilitas tempat dan snack disponsori Fakultas Kedokteran Unair. Biaya mendatangkan AB akan kami tanggung. AB bersedia hadir, di hadapan para guru dan dokter-dosen FK Unair, kira-kira 100 audience, dan berbicara dengan sangat mengesankan tentang pendidikan, toleransi, dan kebangsaan. Waktu mau ke bandara, asisten menyampaikan amplop biaya kehadirannya, dia menolak. Dia kembalikan. Jadi, dia datang memenuhi undangan orang yang baru dikenalnya, mengeluarkan biaya sendiri. Itulah Anies Baswedan, karakternya terbaca sejak sebelum dia jadi tokoh besar.

Tahun 2010 saya bertemu lagi di forum budaya ASEAN di Jakarta, AB sebagai salah satu pembicara, dan topiknya out of the box: perlunya pendidikan bagi para orangtua, sebelum mikir pendidikan generasi muda. Tahun yang sama, atau 2011, AB diundang ke kampus UNESA Ketintang. Ketika mobilnya putar-putar cari lokasi acara, saya yang sudah kontak-kontak dengannya, mencegatnya dan mengajaknya mampir di warkop kampus yang dipenuhi rekan alumni dan mahasiswa. AB bersedia masuk, duduk, ngobrol bersama kami, ngopi. Sesaat kemudian, dia menuju lokasi dengan audience memenuhi hall berkapasitas 1000-an orang, dan melakoni tugas sebagai main speaker dengan topik pendidikan dan masa depan bangsa.
Sampai di sini, saya berstatus hanya kenal dengan AB. Bukan teman. Tahun 2011 kalau tidak salah, AB mendirikan Indonesia Mengajar. Sungguh sebuah gerakan yang sangat diperlukan di Indonesia. Saya tidak tahu darimana fundingnya, tapi bagi para pengajar (umumnya mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduates) diberikan honorarium yang layak. Mereka disebar ke pelosok-pelosok terjauh dan terpencil di seluruh Indonesia untuk mengajar anak-anak yang tak punya akses pendidikan formal, selama beberapa bulan atau satu tahun. Waktu itu saya berpikir: “Donaturnya pasti banyak ya, membiayai ratusan volunteer seperti itu, dan pasti nama AB ini sangat mudah menyerap dana alias punya nilai jual.”
Meskipun bukan teman, AB tiap tahun mengirimi saya kartu lebaran bergambar foto mutakhir keluarganya. Melihat foto anak gadisnya yang berambut ikal tanpa hijab, saya berkesimpulan bahwa mereka keluarga Islam moderat. Dia kemudian makin meningkat karirnya dengan ditunjuk sebagai Mendikbud di era awal Presiden Jokowi. Di era Presiden SBY, dia menduduki posisi tertinggi bersama Dahlan Iskan sebagai capres yang akan diusung oleh Konvensi Capres Partai Demokrat 2013-2014 (namun malah tidak jadi diusung). Sekali pernah dia kirim WA, mengomentari sebuah tulisanku di koran. “Tulisannya bagus, mbak,” tulisnya.

Tahun 2018, dalam sebuah perhelatan PWI Pusat, dimana saya merupakan salah satu pengurusnya, di gedung LKBN Antara di Jakarta, AB yang sudah menjadi Gubernur DKI menjadi pembicara. Ketika turun panggung, tentu dia dikerubuti wartawan dan panitia-pengurus PWI. Tapi begitu melihat saya, dia berhenti berjalan dan menyapa: “Mbak Sirikit, kok ada di sini. Bagaimana? Sehat ya?” Di hadapan begitu banyak orang, disapa tokoh semacam AB, rasanya sesuatu banget. Saya sendiri terkesan bahwa setelah sekian tahun tak bertemu, dia masih hafal wajah dan nama saya. Padahal kami tidak berteman akrab.
Itulah AB yang saya kenal. Baru-baru ini dia Kirim WA: “Assalamu alaikum Mba Sirikit. Mendoakan semoga Allah terus melimpahkan rahmah, barokah, dan perlindungan utk Mba Sirikit. Alhamdulillah masa kritis telah terlewati. Insya Allah makin sehat Mba. Kita bisa berdiskusi lagi, ngobrol lagi, dan sama-sama bekerja untuk kemajuan Indonesia.” Darimana dia tahu saya sakit? Tentu bukan dari saya. Fakta bahwa dia tahu, dan mengirimkan simpati serta doa, lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Jadi, kalau ada yang menuduh saya pro/pendukung AB –dalam konteks politik- ya, apa boleh buat. Pengalaman nyata saya dan pengamatan selama ini sebagai pengamat media, tak bisa tidak, menyimpulkan bahwa dia orang yang baik. Terlepas dia pintar dalam berbagai hal, tidak terlalu penting. Yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah orang dengan pribadi/karakter yang baik, tak goyah oleh jabatan, kekuasaan, dipuji tidak terbang, dibully tidak tumbang.
========

Sirikit Syah
Penulis dan pengamat media
28 November 2020