Rabu, 21 April 2021

Mengapa Harus Kartini, mengapa tidak Tjut Nyak Dhien

Kartini

Banyak dari kita beranggapan, kenapa harus hari kelahiran Kartini dijadikan sebagai hari nasional sebagai bentuk penghargaan tertinggi negara bagi wanita Indonesia?

Padahal, ada seorang pejuang tangguh, macan wanita dari Aceh yang menunjukkan kegarangannya bertempur melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Laksamana Malahayati dari Aceh. Tidak hanya di Aceh, kita bisa temui juga macan wanita lainnya, seperti Martha Christina Tiahahu dari Laut Banda, Nyi Ageng Serang yang mendapatkan kepercayaan dari Pangeran Diponogoro dalam menyusun strategi perang melawan Belanda. Dari Makassar ada pejuang wanita Andi Depu.

Atau, ada yang berjuang melalui Rohana Kudus dari Minangkabau, berjuang dengan tulisan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Wanita Minang lainnya yang berupaya mengangkat martabat wanita melalui politik, Rasuna Said. Dari  negeri Pasunda ada. Raden Dewi Sartika berjuang melalui pendidikan. Juga dari Minahasa Maria Walanda Maramis.

Bisa jadi, masih banyak wanita-wanita hebat lainnya, seorang Ibu yang telah mendidik dan melahirkan anak-anak hebat, seorang istri yang mendampingi suami-suami hebat. Tidak hanya itu, ada tokoh-tokoh wanita lain yang memberikan sentuhan berbeda dari berbagai bidang keahlian sehingga melahirkan sesuatu yang baik dan kekal tidak lekang oleh waktu.

Mereka semua adalah sosok wanita hebat Indonesia, Kartini Indonesia.

Peran seorang wanita dikatakan dalam sebuah hadist, bahwa wanita itu adalah tiang negara. Baik buruknya sebuah bangsa akan ditentukan oleh wanitanya.

Kartini sendiri merupakan sosok wanita yang kompleks dalam kehidupannya. Sebagian kisahnya tergambarkan dalam film Kartini, baik pribadinya maupun jejaringnya. Bahkan, pemikirannya juga tergambarkan dalam tulisannya yang berjudul, " Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran". Kartini adalah wanita yang kritis dan cerdas, terkekang oleh zamannya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, tapi ia tidak menyerah dan belajar sendiri, ditambah kegemarannya membaca buku.

Kartini sendiri, walaupun dipingit, ia mengembangkan jejaring-jejaringnya melalui karospodensi, surat menyurat dalam skala internasional. Ia pun setelah menikah mendirikan sekolah yang didukung oleh suaminya. 

Walaupun meninggal muda, sosoknya telah memberikan inspirasi bagi para wanita pergerakan pada waktu itu, ketika ada sebuah keinginan emansipasi wanita.

Selamat Hari Kartini. Selamat Datang Generasi Wanita Milineal.

Ya Allah, majukanlah wanita Indonesia agar Indonesia semakin maju. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung dari wanitanya. Ibu yang baik, istri yang baik, tokoh wanita yang baik dari berbagai bidang, dari merekalah lahir tokoh-tokoh bangsa dan manusia-manusia hebat Indonesia. 

(Doa Hari ke 9 Romadhon)

Rabu, 23 Desember 2020

Alumni PGSD 90an Gelar Reuni, Eksistensi Silaturahmi untuk berbagi


Meulaboh _ Alumni Mahasiswa Program Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melaksanakan reunian di Wilayah Barat  di Pantai Bubon Selasa 22/12/2020.

Reuni Alumni PGSD tahun ini adalah tahun ke 6. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para Alumni sebagai jalan menyambung tali silaturahmi antar Alumni dan keluarga. Para Alumni diwajibkan mengikut sertakan keluar, baik suami atau istri juga anak anak kata Hamid ketua reuni juga mantan ketua warga waktu kuliah tahun 1993 UPP lampeunurut. 

Uniknya reuni angkatan 90an ini yaitu tempat reuni selalu berpindah pindah di setiap tahun. "Tempat reuni tahun depan, kami putuskan berdasarkan hasil musyawarah setiap akhir reuni tahun berjalan dan atas kesediaan tuan rumah tempat reuni tersebut" Kata Bustami angkatan 92 sekarang bertugas sebagai sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Nagan Raya. 

Chairil Anwar sebagai ketua panitia tempat tahun ini memberi keterangan kepada media ini, peserta yang ikut hari ini 52 teridi dari Nagan Raya 13 keluarga, meulaboh 4 keluarga, Aceh Selatan 6 keluarga,  Aceh Besar 2 keluarga, Pidie 4 keluarga, Bireun 2 keluarga, Aceh Utara 3 keluarga, langsa 2 keluarga ulas pengawas PAI SMA SMK Aceh Barat. 

" Tahun 2021 Aceh Timur sebagai tuan rumah sebagai pilihan pertama dan pilihan kedua adalah kota Sabang" Kata bu Malinda. Bagi teman yang ingin bergabung tahun depan silakan daftar diri pada Ketua alumni atau kunjungi Facebook Alumni DII PGSD unsyiah.

Kami berharap Alumni PGSD harus kompak membangun pendidikan Aceh. Kita tunjukkan bahwa kita memberi kontribusi nyata untuk Ummat 
Kontributor: Hamid

Sabtu, 19 Desember 2020

Radar Bike, Titik Kumpul Gowes Bareng Tim MBGH


Banda Aceh - Berbagai cara dilakukan untuk mempererat hubungan antara pelatih dengan sesama anggotanya. Begitu juga dengan Tim Marching Band Gita Handayani ini, mereka mengadakan kegiatan bersepeda bersama seluruh anggotanya. 

Ketua tim pelatih Marching Band Gita Handayani, Taufik Hidayat kepada media, Minggu (20/12/2020) di Radar Bike Jambo Tape menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya pihaknya dalam rangka meningkatkan kapasitas sesama anggota tim. 

"Jadi pada kesempatan ini kita memilih untuk melaksanakan kegiatan gowes ini. Karena murah dan mudah dilakukan oleh siapa pun. Terlebih dengan kondisi pandemi Covid 19 sekarang yang mengharuskan kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran," terangnya. 

Dia memastikan peserta yang ikut kegiatan gowes ini mencapai 60 peserta dengan jarak tempuh 35 km. Sedangkan untuk titik kumpul dan finishnya di Radar Bike di Jambo Tape, Kota Banda Aceh atau depan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh. 

"Sesudah gowes, anak-anak juga akan diperkenalkan dan diberikan informasi tentang manfaat olahraga sepeda dan jenis sepeda sesuai dengan postur tubuh masing-masingnya. Karena di Radar Aceh disediakan bermacam jenis sepeda yang digunakan atlet dan masyarakat umum," ujar pria yang akrab dipanggil Toya. 

Selain menjaga stamina, kata Toya,  olahraga yang familiar dengan gowes ini dinilai bisa mempererat hubungan sekaligus membangun kebersamaan antara pelatih dan anggotanya. 

"Olahraga ini juga berguna untuk menjaga stamina agar tetap stabil. Itu merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh anggota tim MBGH," katanya. 

Dirinya menambahkan, kegiatan gowes tak hanya kali ini saja digelar, nantinya kita juga akan sering olahraga bersepeda. Kegiatan kali ini tidak hanya diikuti oleh anggota Tim Marching Band Gita Handayani dan jajaran saja, melainkan diikuti juga oleh beberapa komunitas sepeda lainnya.

Berikut beberapa manfaat bersepeda untuk kesehatan :

1. Mengontrol berat badan
Bersepeda adalah cara yang baik untuk mengontrol atau mengurangi berat badan karena dapat meningkatkan tingkat metabolisme, membangun otot dan membakar lemak tubuh.

Penelitian menunjukkan bersepeda selama satu jam membantu membakar 300 kalori. Riset dari Inggris juga membuktikan, bersepeda selama setengah jam setiap hari membantu membakar lima kilogram lemak dalam setahun.

2. Menjaga kesehatan jantung
Bersepeda memperkuat otot jantung, menurunkan denyut nadi istirahat dan mengurangi kadar lemak darah.
Riset dari Denmar yang meneliti 30.000 orang berusia 20 hingga 93 tahun juga membuktikan bersepeda secara teratur melindungi kita dari penyakit jantung.

4. Meminimalisir risiko diabetes
Diabetes tipe 2 merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Kurangnya aktivitas fisik adalah alasan utama yang membuat penderita diabetes meningkat setiap waktu.
Riset dari Finlandia membuktikan, bersepeda 30 menit per hari mampu mengurangi risiko diabetes hingga 40 persen.

5. Meningkatkan kesehatan mental
Gangguan kesehatan mental seperti depresi, stres dan kecemasan dapat dikurangi dengan mengendarai sepeda secara teratur.
Hal ini disebabkan karena bersepeda memiliki efek yang sama seperti rekreasi sehingga mendorong dopamin yang memicu rasa bahagia.

Selasa, 01 Desember 2020

*Anies Baswedan bukan temanku*

Anies Baswedan bukan temanku*
Oleh:. 
*Sirikit Syah*

Banyak teman mengira aku pendukung AB, entah dalam konteks apa. Tapi aku memang mengagumi sosok satu ini jauh sejak dia masih “belum apa-apa”. Waktu itu, tahun 2007, saya masih di Brunei Darussalam. Saya membaca berita bahwa di salah satu majalah luar negeri, namanya disebutkan sebagai salah satu dari 100 tokoh muda berpengaruh di dunia.

Ketika dia menjadi Rektor Universitas Paramadina, saya hampir selesai kontrak dengan The Brunei Times. Saya menghubungi orang yang tidak saya kenal itu, dan dia menyambut dengan sangat ramah. Saya ajukan kemungkinan saya melamar sebagai wakil rektor di Paramadina, dia menyambut baik dan memberi petunjuk apa yg harus saya lakukan. Alhasil, pada suatu hari di Jakarta, saya berhadapan dengan AB dan jajarannya, diwawancarai untuk kemungkinan jabatan Warek I (kalau saya tidak salah ingat). Modal saya cuma pengalaman menjadi Warek di Stikosa 2003-2007 (pengalaman wartawan belasan tahun tidak signifikan di sini). Ternyata pada hari yang sama ada beberapa kandidat lainnya yang diwawancarai. Saya tidak berhasil, kandidat lain lebih memenuhi syarat dan standar Paramadina. Itulah pertamakalinya saya bertemu dengan AB.
Tahun 2008, merasa sudah kenal, saya mengundangnya untuk menjadi keynote speaker pada acara yang kami selenggarakan (LKM Media Watch – Klub Guru) untuk memeringati Hari Pendidikan Nasional. Fasilitas tempat dan snack disponsori Fakultas Kedokteran Unair. Biaya mendatangkan AB akan kami tanggung. AB bersedia hadir, di hadapan para guru dan dokter-dosen FK Unair, kira-kira 100 audience, dan berbicara dengan sangat mengesankan tentang pendidikan, toleransi, dan kebangsaan. Waktu mau ke bandara, asisten menyampaikan amplop biaya kehadirannya, dia menolak. Dia kembalikan. Jadi, dia datang memenuhi undangan orang yang baru dikenalnya, mengeluarkan biaya sendiri. Itulah Anies Baswedan, karakternya terbaca sejak sebelum dia jadi tokoh besar.

Tahun 2010 saya bertemu lagi di forum budaya ASEAN di Jakarta, AB sebagai salah satu pembicara, dan topiknya out of the box: perlunya pendidikan bagi para orangtua, sebelum mikir pendidikan generasi muda. Tahun yang sama, atau 2011, AB diundang ke kampus UNESA Ketintang. Ketika mobilnya putar-putar cari lokasi acara, saya yang sudah kontak-kontak dengannya, mencegatnya dan mengajaknya mampir di warkop kampus yang dipenuhi rekan alumni dan mahasiswa. AB bersedia masuk, duduk, ngobrol bersama kami, ngopi. Sesaat kemudian, dia menuju lokasi dengan audience memenuhi hall berkapasitas 1000-an orang, dan melakoni tugas sebagai main speaker dengan topik pendidikan dan masa depan bangsa.
Sampai di sini, saya berstatus hanya kenal dengan AB. Bukan teman. Tahun 2011 kalau tidak salah, AB mendirikan Indonesia Mengajar. Sungguh sebuah gerakan yang sangat diperlukan di Indonesia. Saya tidak tahu darimana fundingnya, tapi bagi para pengajar (umumnya mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduates) diberikan honorarium yang layak. Mereka disebar ke pelosok-pelosok terjauh dan terpencil di seluruh Indonesia untuk mengajar anak-anak yang tak punya akses pendidikan formal, selama beberapa bulan atau satu tahun. Waktu itu saya berpikir: “Donaturnya pasti banyak ya, membiayai ratusan volunteer seperti itu, dan pasti nama AB ini sangat mudah menyerap dana alias punya nilai jual.”
Meskipun bukan teman, AB tiap tahun mengirimi saya kartu lebaran bergambar foto mutakhir keluarganya. Melihat foto anak gadisnya yang berambut ikal tanpa hijab, saya berkesimpulan bahwa mereka keluarga Islam moderat. Dia kemudian makin meningkat karirnya dengan ditunjuk sebagai Mendikbud di era awal Presiden Jokowi. Di era Presiden SBY, dia menduduki posisi tertinggi bersama Dahlan Iskan sebagai capres yang akan diusung oleh Konvensi Capres Partai Demokrat 2013-2014 (namun malah tidak jadi diusung). Sekali pernah dia kirim WA, mengomentari sebuah tulisanku di koran. “Tulisannya bagus, mbak,” tulisnya.

Tahun 2018, dalam sebuah perhelatan PWI Pusat, dimana saya merupakan salah satu pengurusnya, di gedung LKBN Antara di Jakarta, AB yang sudah menjadi Gubernur DKI menjadi pembicara. Ketika turun panggung, tentu dia dikerubuti wartawan dan panitia-pengurus PWI. Tapi begitu melihat saya, dia berhenti berjalan dan menyapa: “Mbak Sirikit, kok ada di sini. Bagaimana? Sehat ya?” Di hadapan begitu banyak orang, disapa tokoh semacam AB, rasanya sesuatu banget. Saya sendiri terkesan bahwa setelah sekian tahun tak bertemu, dia masih hafal wajah dan nama saya. Padahal kami tidak berteman akrab.
Itulah AB yang saya kenal. Baru-baru ini dia Kirim WA: “Assalamu alaikum Mba Sirikit. Mendoakan semoga Allah terus melimpahkan rahmah, barokah, dan perlindungan utk Mba Sirikit. Alhamdulillah masa kritis telah terlewati. Insya Allah makin sehat Mba. Kita bisa berdiskusi lagi, ngobrol lagi, dan sama-sama bekerja untuk kemajuan Indonesia.” Darimana dia tahu saya sakit? Tentu bukan dari saya. Fakta bahwa dia tahu, dan mengirimkan simpati serta doa, lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Jadi, kalau ada yang menuduh saya pro/pendukung AB –dalam konteks politik- ya, apa boleh buat. Pengalaman nyata saya dan pengamatan selama ini sebagai pengamat media, tak bisa tidak, menyimpulkan bahwa dia orang yang baik. Terlepas dia pintar dalam berbagai hal, tidak terlalu penting. Yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah orang dengan pribadi/karakter yang baik, tak goyah oleh jabatan, kekuasaan, dipuji tidak terbang, dibully tidak tumbang.
========

Sirikit Syah
Penulis dan pengamat media
28 November 2020

Sabtu, 07 November 2020

Cerita Singkat Kisah Kehidupan Abu Ibrahim Woyla

Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara yang berasal dari Aceh Barat. Di kalangan masyarakat Aceh, ia juga dikenal dengan nama Abu/Teungku Beurahim Keuramat.

Ketika Abu Ibrahim Woyla meninggal, ribuan orang berkunjung untuk melayat selama 30 hari sebagai tanda bahwa ia sangat dihormati oleh masyarakat.

Abu Ibrahim Woyla dilahirkan pada tahun 1919 di Kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat dengan nama lengkap Teungku Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen.

Pendidikan formal yang diselesaikan oleh Abu Ibrahim Woyla adalah Sekolah Rakyat (SR) selebihnya menempuh pendidikan dayah (pesantren) selama hampir 25 tahun.

Selama hidupnya, Abu Ibrahim Woyla pernah belajar selama 12 tahun pada Syekh Mahmud, seorang ulama asal Lhoknga, Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Salah satu murid Syekh Mahmud ini adalah Abuya Muda Waly yang kemudian menjadi ulama tersohor di Aceh.

Selain itu Abu Ibrahim Woyla juga pernah belajar pada Abu Calang (Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilyatin (Suak) bersama rekan seangkatannya yang bernama Teungku Adnan Bakongan.

Setelah Abuya Muda Waly kembali dari Mekkah dan membuka Dayah Darussalam di Labuhan Haji, Aceh Selatan, maka Abu Ibrahim Woyla kembali belajar kepada Abuya Muda Waly selama dua tahun untuk memperdalam Tareqat Naqsyabandiah. Selesai belajar kepada Abuya Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampungnya di Pasi Aceh.

Tak lama setelah kembali ke kampung halamannya, Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara tanpa seorangpun yang tahu kemana tujuannya. Menurut salah seorang menantunya yang bernama Teungku Nasruddin, Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang sebanyak tiga kali selama hidupnya. Pertama sekali selama dua bulan, kedua kali selama dua tahun, dan ketiga selama empat tahun.

Setelah menghilang untuk ketiga kalinya, kemudian Abu Ibrahim Woyla kembali ke keluarganya dengan kondisi rambut dan tubuh yang tidak terurus. Karena kondisinya yang seperti itu maka banyak orang yang menganggap kalau Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.

Sejak kecil Abu Ibrahim Woyla dikenal sebagai sosok yang pendiam, ia hanya berkomunikasi jika ada yang perlu disampaikan. Hal ini menyebabkan orang lain tidak berani menanyakan hal-hal aneh yang dilakukannya.[1]

Abu Ibrahim Woyla memiliki dua orang istri yaitu Rukiah dan seorang wanita lagi yang tidak disebutkan namanya. Istri kedua beliau dinikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum Abu Ibrahim Woyla meninggal dunia. 

Dari istri kedua ini, Abu Ibrahim Woyla tidak mendapatkan anak. Dari istri pertama, Abu Ibrahim Woyla mendapatkan tiga orang anak yaitu Salmiah, Hayatun Nufus, dan Zulkifli.

Ada cerita yang menyatakan bahwa ketika Salmiah berumur 6 bulan dalam kandungan, Abu Ibrahim Woyla beberapa kali mengatakan ingin membelah perut istrinya untuk melihat anaknya.

Meskipun hal itu tidak pernah dilakukannya tapi ucapannya itu membuat keluarganya cemas.

Anak pertama yang bernama Salmiah lahir pada tahun 1954, tetapi untuk Abu Ibrahim Woyla ini bukanlah sebuah peristiwa yang istimewa karena dia hanya pulang sebentar dan kemudian kembali menghilang.

Ketika Salmiah sudah mulai beranjak besar, barulah Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampungnya dan membuka kebun di Suwak Trieng. Kehidupan normalnya itu terus berlangsung hingga kelahiran anak ketiganya yang bernama Zulkifli.

Tidak lama setelah kelahiran Zulkifli, Abu Ibrahim Woyla kembali mengembara sehingga istrinya meminta agar dipulangkan ke rumah orang tuanya.

Hal ini terjadi karena menurut istrinya, Abu Ibrahim Woyla tidak lagi peduli kepada keluarganya dan hanya sibuk dengan zikirnya saja. Tetapi hal ini tidak terwujud dan mereka tetap hidup bersama hingga akhir hayatnya.

Sering Membagikan Uang Kepada Anak-Anak

Menurut menantunya yang bernama Teungku Nasruddin, Abu Ibrahim Woyla sering membagikan uang yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan tanpa perhitungan.

Kebanyakan yang menerima uang tersebut adalah anak-anak, terkadang ada anak-anak yang menerima Rp.50.000, Rp.20.000, atau bahkan hanya Rp.1.000.

Mampu Menyingkat Waktu Perjalanan Sunting

Di masa hidupnya, Abu Ibrahim Woyla dikenal sangat suka berjalan kaki. Suatu ketika ada seorang tetangganya yang bernama Teungku Muhammad Kurdi Syam sedang menaiki mobil dari Teunom ke Meulaboh.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Abu Ibrahim Woyla dan mengajaknya untuk ikut naik mobil bersamanya. Ketika itu Abu Ibrahim Woyla menolaknya dan Teungku Muhammad Kurdi Syam langsung melanjutkan perjalanannya ke Meulaboh.

Ketika tiba di Meulaboh, ternyata Abu Ibrahim Woyla telah tiba lebih dulu padahal ketika di perjalanan tidak ada mobil lain yang memotong laju mobil Teungku Muhammad Kurdi Syam.

Bahan Makanan Bertambah Secara Tiba-Tiba

Dikisahkan oleh salah satu menantunya yang bernama Teungku Nasruddin, Abu Ibrahim Woyla pernah berkunjung ke almamaternya yaitu Dayah Syekh Mahmud di Blang Pidie. Ketika itu ia minta disediakan sepiring nasi untuk sarapan, tapi diberitahukan oleh bahwa tidak tersedia lauk apapun lagi di dapur.

Abu Ibrahim Woyla kemudian menjawab bahwa ia bisa makan hanya dengan lauk telur, dan diminta kepada santri tadi untuk mengecek persediaan di dapur. Ajaibnya di tempat penyimpanan telur masih tersisa satu telur lagi, padahal seingat santri tersebut semua telur telah habis untuk dimakan santri lain.

Kisah lainnya adalah, Abu Ibrahim Woyla datang berkunjung ke rumah salah seorang saudaranya dan minta sedikit nasi dengan lauk sambal udang belimbing. Istri tuan rumah memberitahukan kepada suaminya bahwa pohon belimbing di rumah mereka tidak ada buahnya tapi sang suami tetap berkeras agar istrinya tersebut mengecek ulang pohon belimbing tersebut. 

Ketika diperiksa kembali, terlihat bahwa pohon belimbing tersebut memiliki tiga buah belimbing yang cukup untuk membuat sambal seperti yang diminta Abu Ibrahim Woyla.

Menjadi Tamu Gus Dur

Suatu ketika dikisahkan Gus Dur kedatangan seorang tamu dari Aceh, biasanya Gus Dur menerima tamu dengan kondisi seadanya mengingat ia kondisinya yang sedang sakit. Berbeda dengan biasanya, sebelum tamu tersebut diminta masuk ke dalam rumahnya, Gus Dur buru-buru berganti pakaian dengan pakaian rapi seperti akan menyambut hari raya Idul Fitri.

Ketika tamu tersebut masuk, Gus Dur dan tamunya tersebut hanya bersalaman dan tidur dalam posisi duduk selama lebih kurang 15 menit. Setelah sang tamu bangun, ia langsung berpamitan tanpa ada obrolan apapun. Ketika hal itu ditanyakan barulah diberitahukan bahwa yang datang itu adalah Abu Ibrahim Woyla, seorang ulama sufi dari Aceh.

Meramalkan Tsunami

Ketika tsunami atau smong melanda Aceh pada tahun 2004, diceritakan oleh beberapa orang bahwa Abu Ibrahim Woyla telah memberitahukan hal itu melalui isyarat.

Salah satu diantaranya dikatakan bahwa air akan naik setinggi pohon kelapa, hal ini dikatakan kepada salah satu muridnya yang bernama Mukhlis yang sekarang bermukim di Dayah Bustanul Huda atau Dayah Pulo Ie, Desa Dayah Baro, Calang.[3] Cerita lainnya, 15 hari sebelum tsunami murid-murid Abu Ibrahim Woyla telah diperintahkan untuk menjauhi pantai.

Abu Ibrahim Woyla wafat pada hari Sabtu tanggal 18 Juli 2009 pukul 16:00 WIB pada usia 90 tahun. Ia dimakamkan di Desa Pasi Aceh, Kecamatan Woyla Induk, Aceh Barat. Hingga saat ini, makam Abu Ibrahim Woyla masih ramai dikunjungi oleh masyarakat sebagai tanda penghormatan kepadanya.
Referensi
1. ^ a b Bahany,, As, Nab. Ensiklopedi ulama besar Aceh. [Banda Aceh, Indonesia]. ISBN 9786029063004. OCLC 967457836.
2. ^ Online, NU. "Tamu Wali yang Diistimewakan Gus Dur | NU Online". NU Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-16.
3. ^ "Abu Ibrahim Woyla dan Tsunami Aceh - Santri Online". Santri Online. 2016-04-09. Diakses tanggal 2018-10-16.
4. ^ Putri Nailul Muradi, Putri Nailul Muradi (16 Oktober 2018). Karamah Abu Ibrahim Woyla Dalam Persepsi Masyarakat Aceh (Thesis thesis). Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh.

Sumber
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Abu_Ibrahim_Woyla#:~:text=Abu%20Ibrahim%20Woyla%20adalah%20seorang,ia%20sangat%20dihormati%20oleh%20masyarakat.

Kamis, 29 Oktober 2020

KENALKAN KEPADA ANAK CUCU KITA MILAD RASULULLAH MUHAMMAD SAW

buktikan bahwa anda LEBIH CINTA Nabi Muhammad saw dgn membaca tentang: Biografi Nabi Muhammad saw.

*BIODATA RASULULLAH S.A.W*
πŸ–Œ *Nama* : _Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim_.
πŸ–Œ *Tarikh lahir :* _Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal_ bersamaan 20 April 571 Masehi,
(dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajah Abrahah yang menyerang kota Ka'bah)
πŸ–Œ *Tempat lahir* : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.
πŸ–Œ *Nama bapak* : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.
πŸ–Œ *Nama ibu* : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.
πŸ–Œ *Pengasuh pertama* : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah SAW).
πŸ–Œ *Ibu susu pertama* : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
πŸ–Œ *Ibu susu kedua* : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa'diah (lebih dikenali Halimah As-Sa'diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

*USIA 5 TAHUN*
πŸ’“ _Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat_ untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

*USIA 6 TAHUN*
πŸ’“ _Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia_ di Al-Abwa '
(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah SAW)
dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

*USIA 8 TAHUN*
πŸ’“ _Datuknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia_.
Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

*USIA 9 TAHUN* (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).
πŸ’“Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan.

πŸ’“Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang
pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.

*USIA 20 TAHUN*
πŸ’“Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab 'Sirah', jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah 14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan
berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.
πŸ’“Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

*USIA 25 TAHUN*
πŸ’“Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.
πŸ’“Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.
πŸ’“Baginda SAW bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.
πŸ’“Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

*USIA 35 TAHUN*
πŸ’“Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka'bah.
πŸ’“Pembinaan semula Ka'bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk Makkah.

πŸ’“Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan 'Hajarul-Aswad' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut.

*USIA 40 TAHUN*
πŸ’“Menerima wahyu di gua Hira' sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

*USIA 53 TAHUN*
πŸ’“Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.
πŸ’“Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

*USIA 63 TAHUN*
πŸ’“Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

*ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW*
πŸ’š Khadijah Binti Khuwailid.
πŸ’š Saudah Binti Zam'ah.
πŸ’š Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
πŸ’š Hafsah binti 'Umar (anak Sayyidina 'Umar bin Al-Khattab).
πŸ’š Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
πŸ’š Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
πŸ’š Zainab Binti Jahsy.
πŸ’š Maimunah Binti Harith.
πŸ’š Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
πŸ’š Zainab Binti Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin', Ibu Orang Miskin).

*ANAK-ANAK RASULULLAH SAW*

1.πŸ’œ Qasim
2.πŸ’œ Abdullah
3.πŸ’œ Ibrahim
4.πŸ’œ Zainab
5.πŸ’œ Ruqaiyah
6.πŸ’œ Ummi Kalthum
7.πŸ’œ Fatimah Al-Zahra'

*ANAK TIRI RASULULLAH SAW*

πŸ’™ Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak  Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

*SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW*
*_IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN_*
1. Thuwaibah → Hamzah
2. Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

*_SAUDARA SUSUAN_*
1. Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ' Uzza
3. Syaima ' binti Harith bin Abdul ' Uzza
4. 'Aisyah binti Harith bin abdul ' Uzza

*BAPAK DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW*
( _ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTHTHALIB_)
1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah *
5. Al-Abbas *
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka'bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *
Ktrgn: * masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

*Sabda Rasulullah SAW:*
_"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku_
_Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga"_
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

Ψ§Ω„Ω„Ω‡Ω… Ψ΅Ω„Ω‰ ΩˆΨ³Ω„Ω… ΨΉΩ„Ω‰ Ψ³ΩŠΨ―Ω†Ψ§ Ω…Ψ­Ω…Ψ― ΩˆΨΉΩ„Ω‰ Ψ’Ω„Ω‡ ΩˆΨ§Ψ΅Ψ­Ψ§Ψ¨Ω‡ ΩˆΨ³Ω„Ω…

Nabi Muhammad SAW - Manusia agung
*KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH*
πŸ’“Begitu indahnya sifat fisikal / jasmani Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

_Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:_
πŸ’ž Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah saw..
πŸ’ž Aku melihat cahaya dari lidahnya.
πŸ’ž Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
πŸ’ž Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
πŸ’ž Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
πŸ’ž Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
πŸ’ž Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
πŸ’ž Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
πŸ’ž Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
πŸ’ž Wajahnya seperti bulan purnama.
πŸ’ž Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
πŸ’ž Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
πŸ’ž Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
πŸ’ž Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
πŸ’ž Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
πŸ’ž Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
πŸ’ž Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
πŸ’ž Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
πŸ’žJanggutnya penuh dan tebal menawan.
πŸ’ž Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
πŸ’ž Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
πŸ’ž Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
πŸ’ž Rambutnya sedikit ikal.
πŸ’ž Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
πŸ’ž Rambutnya terbelah di tengah.
πŸ’ž Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.
πŸ’ž Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.
πŸ’ž Seimbang antara kedua bahunya.
πŸ’ž Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dgn cantik.
πŸ’ž Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
πŸ’ž Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
πŸ’ž Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
πŸ’ž Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
πŸ’ž Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.
πŸ’ž Warna putihnya lebih banyak.
πŸ’ž Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
πŸ’ž Warna kulitnya putih tapi sehat.
πŸ’ž Kulitnya putih lagi bercahaya.
πŸ’ž Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.
πŸ’ž Badannya tidak gemuk.
πŸ’ž Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.
πŸ’ž Perutnya tidak buncit.
πŸ’ž Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.
*KESIMPULANNYA* :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.
_Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, seperti Allah dan Rasul-Nya mencintai_

*Wallahu'alam*
Boleh/ Silahkan di share, Semoga bermanfaat...
A@miin...

Selasa, 27 Oktober 2020

Lagi, Dua Siswa Aceh Boyong Medali Perak Pada Kompetisi Internasional Macau

Banda Aceh - Prestasi gemilang kembali dipersembahkan oleh siswi-siswi dari SMAN 1 Takengon, Kabupaten Aceh Tengah pada kompetisi Macau Innovation and Invention Expo (MIIEX) 2020 pada bidang Algoritma Scientist. Tidak mudah, pada kompetisi itu para duta serambi mekkah  berhasil mengungguli perwakilan pelajar dan mahasiswa dari 160 negara di dunia. 

Kedua siswi Aceh yang berasal dari dataran tinggi gayo tersebut yaitu Oka Hasana Agustiani dan Rafachinka Renjani R. Adapun judul penelitiannya adalah "GUKOP (Liquid Sugar from Coffee's Cherry Mucilage) As an Alternative to Prevent Diabetes atau "GUKOP (Gula Kopi) berbahan dasar daging buah kopi sebagai  pencegah diabetes. 

Dalam melakukan penelitiannya mereka dibimbing oleh Kepala SMAN 1 Takengon, Konadi Lingga, M. Pd dan Guru Pembimbing, Hellyda Fitri, S.Pd.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs H Rachmat Fitri HD, MPA didampingi Kepala UPTD Balai Tekkomdik, T. Fariyal, MM, Selasa (27/10/2020) mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas torehan prestasi siswi-siswi Aceh di tingkat Internasional. Dia berharap prestasi ini bisa menjadi contoh dan motivasi  bagi siswa yang lain. 

"Alhamdulillahirabbil 'alamin. Inilah hasil dari ikhtiar kita bersama untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing sesuai visi dan misi Pemerintah Aceh yaitu Aceh Carong," ungkap Kadisdik penuh haru. 

Prestasi yang lahir ini, lanjutnya merupakan buah dari ikhtiar para guru dan kepala sekolah yang konsisten melatih dan membina siswi agar berkompeten sesuai bakat dan keahliannya. Peran kepala sekolah dan guru sangatlah penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. 

"Dimasa pandemi Covid 19 kita mampu mencatatkan beragam prestasi dibidang pendidikan baik di tingkatan nasional maupun internasional. Hal ini membuktikan bahwa ikhtiar kita di ridhai oleh Allah SWT," ujar Haji Nanda sapaan akrab beliau. 

Kadisdik Aceh mengharapkan dengan adanya pelajar Aceh yang meraih prestasi di tingkat internasional, maka akan menjadi motivasi bagi pelajar lainnya untuk mengukir prestasi. 

"Semoga ini menjadi pembangkit semangat bagi pelajar Aceh lainnya. Kita telah menjuarai berbagai kompetisi, ini harus menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah lain di Aceh," tuturnya. 

Rachmat Fitri mengajak para kepala sekolah dan guru untuk terus membina dan melatih siswa agar dapat mengembangkan bakat dan minatnya. Dengan begitu, katanya, maka target kelulusan siswa pada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di Indonesia dapat terwujud di 2021.

"Kita harus bekerja keras secara bersama-sama untuk meluluskan para siswa di Aceh ke PTN terbaik. Mudah-mudahan Allah meridhai semua hajat dan cita-cita kita semua," imbuhnya. 

Sementara Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Zulkifli, M. Pd menjelaskan judul yang diambil siswi tersebut berdasarkan fakta dan data terkini setelah dilakukan pengamatan secara mendetail. 

"Seperti yang diketahui bahwa penyakit diabetes terjadi salah satunya karena mengkonsumsi makanan yg mengandung gula yaitu sukrosa dan glukosa secara berlebihan. Diabetes dapat ditandai dengan kadar gula (glukosa) didalam darah tinggi," jelasnya. 

Penelitian ini, lanjut Zulkifli, dilakukan karena berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah bahwa penderita diabetes di daerah itu semakin meningkat setiap tahunnya. Maka dari itu, perlu dilakukan pengkajian pengganti gula yang rendah glukosa. 

"Metode yg digunakan adalah laboratory research dan hasil yg didapatkan adalah gula kopi dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti gula pasir dan dapat mengurangi resiko terkena penyakit diabetes karena kandungan glukosa dan sukrosa yg rendah," jelasnya. 

Kabid Pembinaan SMA dan PKLK mengupas bahwa Kompetisi MIIEX merupakan  Sains Internasional yang diprakarsai Macao Innovation and Invention Association (MIIA) yang terselenggara atas kerjasama organisasi-organisasi invention dunia. 

"Kompetisi ini diikuti oleh 160 negara di dunia dari semua tingkatan mulai dari pelajar, mahasiswa hingga akademisi. Sebuah kebanggaan bagi Indonesia, khususnya Aceh berhasil menjuarai kompetisi ini," imbuhnya.

Pihaknya juga berterimakasih kepada Kacabdin, kepala sekolah juga para guru dan teristimewa buat siswi-siswi yang sudah berusaha dengan kesungguhan sehingga bisa meraih yg terbaik untuk Negara Indonesia.

"Kita juga mengharapkan kepada siswi tersebut untuk dapat terus mengembangkan potensi yang sudah ada sehingga nanti bisa menjadi penelitian yang hebat untuk tingkat Internasional dan Insyallah kita bisa meraih hal tersebut," tutup Zulkifli, M. Pd. 

Berikut rangkuman peraih medali dari Indonesia :

1. SMAN 1 Takengon Aceh : medali perak

2. SMPN 19 Semarang : Medali Perak

3. MAN 1 Samarinda : Medali perak

4. SMAN 1 Teras : Medali Perunggu


Berikut profil peraih medali perak dari SMAN 1 Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, yaitu :
Nama   : Oka Hasana Agustiani
Ttl         : Takengon, 11 Agustus 2003
Alamat : Tensaren
Nama Ayah : Alm. Syamsuddin
Nama Ibu    : Junaini S.Sos
Cita-cita       : Dokter


Nama : Rafachinka Renjani R
Ttl : Takengon,22 November 2003
Alamat : Jln Lebekader No.228,Takengon
Nama Orang Tua:
Ayah: Ramadhian Fitra S.E
Ibu : Simahati S.K.M,M.A.P
Cita - cita : Dokter