Minggu, 25 Oktober 2020

Disdik dan Poltekpel Malahayati buat MoU untuk SMK se Aceh

SABANG  – Pandemik covid-19 yang melanda dunia sejak akhir 2019 lalu dan mulai mewabah di Tanah Rencong awal kuartal pertama 2020, tidak kecuali Sabang, telah menyebabkan pelaksanaan proses belajar mengajar terganggu. “Keadaan ini memaksa dunia pendidikan harus mencari terobosan baru untuk memenuhi standar nasional pendidikan,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Sabang, Drs Abdul Hamid kepada Aceh Herald.com, Kamis (22/10/2020).

Dikatakan, selama Covid 19, pihaknya bersama pengawas sekolah terus melakukan monitoring perkembangan demi perkembangan yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan di bekas pulau bebas Sabang, termasuk proses belajar mengajar. “Saya sudah meminta Pengawas Sekolah untuk terus memantau perkembangan pembelajaran dan harus hadir ke sekolah yang menjadi binaannya,” kata Hamid.
Dari hasil monitoring Pengawas, tambahnya, pihaknya melakukan evaluasi, dan hasilnya ternyata dalam kondisi pembelajaran kita masih perlu membuat pelatihan untuk guru. Menurut Abdul Hamid, pelatihan terutama untuk meningkatkan kuafikasi tenaga pemgajar di sekolah-sekolah yang ada di Sabang. “Guru kita masih meningkatkan kuafikasi, terutama menyangkut cara-cara menyusun soal HOTS (Higher Order Trinking Skills (Skills).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari mulai 20 Oktober 2020 melibatkan sejumlah guru di Sabang. “Guru-guru di Sabang dilatih cara membuat soal berkuafikasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) yaitu model evaluasi pendidikan yang menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi bagi peserta didik. “Dengan soal-soal HOTS akan mengasah logika, pola pikir kritis, dan kreativitas siswa,” katanya.

Kacab Dinas Pendidikan Aceh di Sabang, Abdul Hamid dalam kesempatan itu mengatakan para guru juga dibekali dengan pemanfaatan Microsoft Office 365 untuk mendukung proses belajar di sekolah-sekolah di masa mendatang dengan menghadirkan fasilitator Darmawan.

Dikatakan, pelatihan pemanfaatan Office 365 tidak cukup hanya dalam waktu 2 jam saja. Oleh karena itu beruntung sekali Sabang memiliki Kepala Cabdisdik, kanda Abdul Hamid yang berinisiatif mengajak IGI melatih guru Sabang. Beliau meminta saya untuk menambah waktu lain agar guru Sabang dapat mahir dalam pemanfaatan Microsoft 365. Beliau bahkan bersedia melakukan pelatihan tatap muka. Insya Allah saya selalu siap kalau untuk Sabang sambung Darmawan kepada media ini.

Sudah muat di Acehherald.com

Jumat, 23 Oktober 2020

Disdik Pidie Jaya Laksanakan ToT Bagi Guru PBI

Meureudu 23/10/2020. Menindaklanjuti Peraturan Bupati  Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Pendidikan Berkarakter Islami. Disdik Pidie jaya melaksanakan pelatihan Training of Trainers bagi Guru Pendidikan Berkarakter Islami (PBI). Guru merupakan ujung tombak sebagai pelaku utama dalam mengembangkan  karakter peserta didik di sekolah, dan sosok yang ditiru, diidolakan, diteladani serta menjadi sumber inspirasi dan informasiserta juga pemberi motivasi bagi peserta didik.  Sikap dan prilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, bermoral dan berakhlak mulia.

Kadisdik Pidie Jaya Saiful, M.Pd dalam arahannya  mengharapkan adanya keiklasan dan komitmen peserta ToT untuk mengikuti dengan fokus dan bisa menjadi contoh bagi guru guru lain dan Siswa dengan mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, dengan menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan yang kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik. Jika ini sudah berjalan dg optimal akan dilakukan evaluasi secara intens dan menyuluruh.

Sementara Makmurrizal, M.Pd selaku Kabid Dikdas mengatakan ToT ini dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 22 s.d 24 Oktober 2020, diikuti 20 orang peserta di Aula SMPN I Mereudu. Peserta ToT ini nantinya akan menjadi fasilitator pada pelatihan lanjutan bagi guru guru PBI lainnya. Materi yang disampaikan lebih kepada penyusunan dan pemahaman kurikulum pembelajaran PBI di satuan pendidikan. 
“dalam menumbuh kembangnya karakter peserta didik di satuan pendidikan merupakan salah satu peran penting guru PBI. Untuk itu guru perlu untuk menyiapkan strategi  pembelajaran yang efektif dan kreatif dalam melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter islami peserta didik”. Ujarnya.
https://acehsiana.com/2020/10/23/disdik-pidie-jaya-tot-kan-guru-pbi/

Rabu, 21 Oktober 2020

Tjoet Nyak, "The Queen of Aceh Battle", wanita

Sumedang, 6 November 1908

HARI itu.. tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, melainkan memilih tempat disalah satu
rumah tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta penderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 6 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatan yang sangat buruk, perempuan tua itu nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Sesekali mereka membawakan pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu, yang belakangan karena pengetahuan ilmu-ilmu agamanya disebut dengan Ibu Perbu.

Waktu itu tak ada yang menyangka bila
perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah "The Queen of Aceh Battle" dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Singa betina dengan rencong ditangan yang terjun langsung ke medan perang. Pahlawan sejati tanpa kompromi yg tidak bisa menerima daerahnya dijajah. 

Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintai. Gadis kecil cantik dan cerdas dipanggil Cut Nyak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang pendatang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Di usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.

Suasana perang yang meggelayuti atmosfir Aceh pecah ketika tanggal 1 April 1873  F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh, dan Tjoet Nyak tentu ada disana. Diantara tebasan rencong, pekik perang wanita perkasa itu dan dentuman meriam, dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan dibakar tentara Belanda...

“..Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh ! Lihatlah !! Saksikan dengan matamu Masjid kita dibakar !! Tempat Ibadah kita dibinasakan !! Mereka menentang Allah !! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda !!". Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari.. setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe Belanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1870. 

Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet Nyak, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya, atau para lelaki Aceh. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiran putri bangsawan itu hanya dicurahkan kepada perang mengusir penjajah.. Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari hutan yang satu ke hutan yang lain, kurang makan dan kurangnya perawatan membuat kondisi kesehatannya merosot. Kondisi pasukanpun tak jauh berbeda. 

Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada 16 November 1905 Kaphe Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya.. Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak. Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet Nyak memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet Nyak tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat.

Perjuangan Tjoet Nyak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.

Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berbicara tentang persamaan hak yang bernama emansipasi perempuan.

Tjoet Nyak, "The Queen of Aceh Battle", wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita jamannya.. berakhir sepi di negeri seberang.. Innalillahi wainnailaihi rojiun..

Minggu, 16 Agustus 2020

Peran Penting ABUYA MUDA WALY & ABU HASAN KR KALEE Awal Kemerdekaan Indonesia

*Peran Penting ABUYA MUDA WALY & ABU HASAN KR KALEE Awal Kemerdekaan Indonesia*

*#Tanpa 2 ulama Aceh, Soekarno tidak diakui sebagai Presiden oleh ulama Nusantara.*

*#TOLAK LUPA* 

Abuya Muhammad Waly Al Khalidy,
Pada tanggal 14 Oktober 1957 diundang oleh presiden pertama RI Soekarno ke Istana Cipanas, Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy di undang bersama dengan Abu Muhammad Hasan Krueng Kalee, serta beberapa ulama lain dari seluruh Indonesia sekitar 500 orang untuk membicarakan status Negara RI dan presidennya dalam tinjauan agama Islam, apakah sah atau tidak.

Berangkatlah ulama-ulama Aceh ini melalui bandara Polonia Medan. Dalam perjalanan itu Tgk Syihabuddin Syah atau Tgk Keumala juga ikut mengantarkan Abuya sampai ke bandara.

Setiba Abuya di Jakarta, beliau bertemu tokoh-tokoh ulama dari daerah lain di antaranya Sumatera, Jawa, dan daerah-daerah lain seluruh Indonesia. Setelah para ulama-ulama ini berkumpul di istana Negara, Presiden mengucapkan selamat datang dan menyampaikan maksud dan tujuan undangannya.

Presiden berkata: "Saya meminta kepada para ulama yang hadir untuk merumuskan nama keberadaan dan kedudukan saya sebagai Presiden RI."

Setiap Ulama dari berbagai perwakilan menyampaikan sikap dan pandangan mereka. Ulama Masyumi dan Muhammadiyah secara tegas menolak keabsahan Soekarno sebagai presiden yang sah dalam tinjauan Islam karena tidak diangkat oleh Ahlul Halli Wal 'Aqdi (Suatu lembaga yang bertugas memilih, mengangkat, dan mengawasi khalifah/ pemimpin dalam politik Islam).

Hingga sampai pada giliran seorang ulama kharismatik dari jawa yang bergelar Sulthanul Ulama, beliau juga mengatakan tidak sah dengan berbagai alasan dan hujjah.

Ketika semua orang hampir pada kesimpulan itu, pimpinan sidang menanyakan kepada ulama dari Aceh tentang pandangan mereka. Abu Krueng Kalee mempersilahkan Abuya Syeikh Muda Waly angkat bicara. Abuya menyatakan Soekarno sah menjadi presiden "Dharurat", alasannya karena ia mempunyai "Syaukah" (kekuasaan yang kuat).

Kekuasaannya itu adalah sebagai panglima tertinggi membawahi polisi dan Tentara Nasional Indonesia. Intinya, Abuya dan Abu Krueng Kalee menilai pemerintah RI dan presiden Soekarno sah untuk disebut sebagai pemerintah (Ulil Amri) menurut Islam, walaupun secara Dharuri Bi Asy-Syaukah.

Ulil Amri Bisy-Syaukah adalah pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk sementara waktu (Pemerintah Masa Transisi) hingga terbentuknya Pemerintahan yang sah dan benar. Pemerintahan ini oleh sebagian ulama dianggap sah selama tidak kafir pemimpinnya, dan tidak mengingkari keberadaan hukum-hukum syari'at, baik secara I'tiqad (Kepercayaan), 'Inad (Pembangkangan), atau istihzak (menghina hukum Islam) walaupun mereka tidak menerapkan sebagiannya, mereka harus menyadari bahwa hal tersebut adalah dosa, dan tidak menghalalkan perbuatan mereka yang tidak menerapkan hukum Allah Swt.

Setelah Abuya dan Abu Krueng Kalee menilai pemerintah RI dan presiden Soekarno sah untuk disebut sebagai Ulil Amri walaupun secara Dharuri Bisy-Syaukah, hal itu disanggah kembali oleh Sulthanul Ulama. Lalu Abuya membaca dalil dari matan Tuhfah yang mengakui keabsahan 'Ulil Amri Dharuri Bisy-Syaukah".

Alasan ini disanggah kembali oleh Sulthanul Ulama. Akhirnya Abuya dari duduk langsung bangun, dan berkata dengan meminjam kalimat yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab:

"Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" "Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" "Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" (pelajarilah fiqh sebelum kamu diangkat menjadi pemimpin). Kata-kata itu diulang hingga tiga kali. Lalu Abuya meminta persetujuan Abu Krueng Kalee atas ucapannya itu: "Kon Nyo Menan Abu?" (bukankah demikian Abu?)

Abu Krueng Kalee menjawab: Nyoe betoi ( iya, benar ).

Pertemuan itu akhirnya menyimpulkan kesepakatan Ulama sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Ulama Aceh. Pertama, kemerdekaan RI adalah sah. Kedua, Presiden RI Soekarno adalah presiden sah dalam posisi Ulil Amri Dharuri Bisy-Syaukah.

Dalil-dalil Abuya Syeikh Muda Waly tentang Pemerintahan RI dan tinjauan Agama hukum berontak kepada pemerintah yang sah:

1. Bughyatul Mustarsyidin sha. 271 bab al-qadhaa

2. Bughyatul Mustarsyidin sha. 249 bab arriddah

3. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 87 kitab arriddah

4. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 78 kitab al-Bughah

5. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 88 kitab arriddah

6. Shawi 'Alal Jalalain Juz 1 sha. 378 tafsir surah al-Ma-idah ayat 54

7. Jam'ul Jawami' juz 2 sha. 439

8. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 66

9. Mishbahul munir sha. 124

10. Tuhfatul Muhtaj Juz 9 sha. 71

Sumber:

Mutiara Fahmi Razali Dkk, Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (Banda Aceh: Yayasan Darul Ihsan Tgk H Hasan Krueng Kalee, 2010), hal.126,127.

#Mustafa Woyla, Humas Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee

Senin, 13 Juli 2020

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Undang Qori Aceh Lantun Al Qur'an

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Jumat (10/7/2020) mengeluarkan keputusan mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid yang akan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jumat perdana pada 24 Juli mendatang.

Keputusan Erdogan disampaikan setelah sebelumnya pengadilan tinggi Turki mencabut status museum yang disematkan kepada Hagia Sophia.

"Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Sultan Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel," kata Erdogan dalam pidato nasional, Jumat (10/7/2020).

Dua tahun lalu Presiden Erdogan mengundang putra Aceh Ustadz Takdir Feriza Hasan untuk membacakan ayat suci Al-Quran di Hagia Sophia.

Sebuah persiapan untuk kembalinya Hagia Shopia menjadi rumah ibadah tempat bersujud dan mengagungkan Sang Penguasa Alam Semesta.

Dua tahun kemudian, hari ini, Hagia Shopia kembali ke pangkuan Umat Islam menjadi masjid.

Ustadz Takdir Feriza Hasan membacakan surat Fathir ayat 29-35.

29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi..

30. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.

31. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu Kitab (Al-Qur'an) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

32. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

[@portalmuslim ]

Jumat, 10 Juli 2020

Sepenggal kisah dari Negeri Serambi Mekah "I Love Aceh

Sepenggal kisah dari Negeri Serambi Mekah
Penulis: Ida Ayu Komang copas Fb teman
I Love Aceh

Buat buzzeRP yang anti syari'at dan suka menjelekkan Aceh. Sini, aku bisikin. 

Aku pindah ke provinsi ini tahun 2011 akhir. November kalau nggak salah. Pindah karena suami asli orang sini. 

Aku kaget waktu pertama sampai. Jalanan mulus. Nggak seperti provinsi tempat asalku. Jalan provinsi pun penuh lobang hingga ada yang ditanami pisang oleh masyarakat. 

Kata suami waktu itu, "Di sini pantang jalan berlobang, Dek. Langsung diperbaiki." 

Lebih terkejut lagi, jalan setapak ke sawah dan ladang pun beraspal, minimal disemen. 

Keesokan hari, saat melapor ke kantor Bupati, aku terkejut. Semua pegawai dan Bupatinya ramah. Berbeda jauh dari tempat asalku. 

Malas rasanya berurusan ke kantor kalau di tempat asalku. Urus apa-apa pakai duit. Pegawainya songong tingkat awan. Pejabatnya, songong tingkat langit. Wajah nggak ramah. Setingkat lurah pun berlagak menteri. 

Di sini, justru aku yang ditanya, "Ada perlu apa, Kak?" Mereka pun yang antar kita ke dalam kantor menjumpai kepala dinas bahkan bupati.

Saat malam aku keluar bareng suami. Aku kaget lagi. Banyak penjual, terutama penjual sayur dan buah tidak menyimpan jualannya. 

Aku paling suka saat hari Jum'at. Terharu melihat toko-toko ditutup (ini nggak ditutup pintu, loh. Hanya diberi tanda dua kursi dan sapu, pertanda toko tak melayani pembeli karena sholat Jum'at. Nggak akan ada pencuri di sini.) Jalanan sepi karena para lelaki ke masjid untuk sholat Jum'at. Pemandangan yang menyejukkan buatku.

Saat awal datang aku sempat tanya ke suami perihal toko yang ditinggal begitu saja. "Nggak takut dicuri, Bang?"

"Di sini nggak ada pencuri, Dek." Itu jawaban suami saat itu. 

Sayang, sekarang mulai datang maling dari luar untuk mencuri ternak. 

Yang luar biasa, pelayanan RS. Gratis untuk seluruh masyarakat ber-KTP Aceh, bernama JKA, Jaminan Kesehatan Aceh. Cuci darah  pasang ring, operasi besar, dan treatment lainnya gratis. Saat ini, untuk test Covid pun gratis. 

Satu lagi, kalau kalian ke Aceh, nggak akan ketemu bus jelek. Orang Aceh itu kaya-kaya. Nggak mau naik bus jelek. 

Orang Aceh itu ramah-ramah dan baik. Aman tinggal di sini. Nggak takut kesasar juga. Orang akan dengan senang hati membantu. 

Pernah, aku pulang kampung naik bus. Muntah-muntah saat lewat Bireun. Saat itu pukul 3 dini hari. Aku turun dan naik becak. Lumayan jauh ke hotel. Butuh waktu satu jam. 

Sempat kepikiran macam-macam. Abang becak sepertinya membaca ketakutanku. "Nggak perlu takut, Kak. Kuantar Kakak selamat sampe hotel." 

Aku pernah ketinggalan dompet di toko buah. Lupa di mana. Setelah ditelusuri ternyata tertinggal di toko buah. Saat itu aku sudah di Jakarta. Suami yang jemput setelah 2 hari. Masih utuh tanpa hilang sepeser pun. 

Di tempatku ini susah mencari orang miskin, apalagi fakir. Sesusahnya orang di sini pakai emas dan masih punya rumah. 

Seringkali, ketika aku ingin bersedekah harus titip Ummi di kampung halamanku. 

Gaji buruh di sini lumayan tinggi. Itu sebabnya, banyak pendatang yang nggak mau lagi pulang. 

Oh, iya. PNS di Aceh setiap gajian dipotong 2,5% untuk zakat. Masuk ke Baitul Maal. Buat mahasiswa yang nggak punya uang bisa meminta bantuan uang ke situ. 

Tahukah teman semua kalau jema'ah haji Aceh saat kembali ke tanah air dapat uang saku dari pemerintah Arab Saudi sebesar 1.200 Riyal atau kita-kira 5 juta? 

Dana ini diambil dari tanah wakaf warga Aceh, Habib Bugak al Asyi di Arab Saudi. Dikelola pemerintah Arab Saudi untuk kemudian dikembalikan pada warga Aceh yang menunaikan ibadah haji. 

Wakaf itu pernah diminta pemerintah Indonesia untuk dikelola, tetapi ditolak Arab Saudi. Mereka takut disalahgunakan. 

Hasil wakaf yang diterima oleh jamaah Aceh diperkirakan bernilai 200 juta riyal atau sekitar Rp5,2 triliun. Aset yang diperoleh dari wakaf tersebut berupa Menara Ajyad setinggi 28 lantai dan Hotel Ajyat 25 tingkat yang berada di 600 serta 500 meter dari Masjidil Haram.

Saat Idul Adha, daging kurban menumpuk karena banyak warga yang berkurban. Seringkali, hewan kurban tak dipotong di satu hari. Bingung mau bagi daging ke mana. Ujung-ujungnya, kulkas penuh daging. 

Belanja di sini, jangan harap kurang timbangan. Yang ada, timbangan dilebihkan. Karena syari'at Islam mengharamkan mengurangi timbangan. 

Jadi, ketika syari'at Islam ditegakkan, masyarakat hidup aman dan damai. Minim pencurian dan tindakan jahat serta maksiat lain. 

Sebaik apa pun sebuah tempat, pasti ada juga kekurangannya. Tak ada yang sempurna di muka bumi ini. Sebaik apa pun aturan syari'at ditegakkan, ada juga yang melanggar. 

Tetapi, dibandingkan jeleknya, bagusnya lebih banyak. 

Nah, yang aneh, bagus yang 9 tak dipublikasi, jelek yang 1 di-blow up seolah-olah itu yang yang selalu terjadi di Aceh. 

Menurutku, yang nggak betah tinggal di Aceh pasti pecinta maksiat. Maling, pezina, pemabuk, anti hijab, dan benci syari'at Islam. 

Datanglah ke Aceh. Coba tanya non Muslim yang tinggal di sini. Mereka saja pun betah. Aku sering ngobrol dengan mereka saat pekanan, hari Minggu, saat aku belanja. 

Aku tanya apa mereka betah dan bagaimana perlakuan saudara Muslim ke mereka. 

Mereka menjawab bahwa nyaman tinggal di Aceh dan nggak mau pulang kampung. Bahkan ada yang mengatakan ada anaknya yang muallaf. 

"Kenapa dikasih masuk Islam, Namboru?" 

"Dia suka. Yang penting, dia jadi baek. Kutengok, tambah baek dia abis masuk Islam. Udah nggak minum tuak lagi." Itu jawaban salah satu wanita setengah baya yang pernah kutanya waktu aku membeli baju bekas import yang dia jual. 

Oleh karena itu, jangan percaya pemberitaan tak benar apalagi yang disebarkan buzzeRp. 

Aku selalu berdo'a agar Aceh tetap menegakkan syari'at Islam. 

I love Aceh.
Dipublish: gureaceh. Blogspot. Com

Rabu, 20 Maret 2019

Jadwal pelaksanaan UNBK SMK dan SMA

1. Bahasa Indonesia: Senin, 25 Maret 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

2. Matematika: Selasa, 26 Maret 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

3. Bahasa Inggris: Rabu, 27 Maret 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

4. Teori Kejuruan: Kamis, 28 Maret 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

Jadwal pelaksanaan UNBK SMA/MA

1. Bahasa Indonesia: Senin, 1 April 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

2. Matematika: Selasa, 2 April 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

3. Bahasa Inggris: Kamis, 4 April 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00).

4. Mata Pelajaran Juruan (IPA/IPS/Bahasa/Keagamaan): Senin, 8 April 2019, terbagi atas 3 sesi (Pk 07.30 – Pk 09.30, Pk 10.30 – Pk12.30 dan Pk 14.00 – Pk 16.00